Zona Nyaman: Musuh Dalam Selimut

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook1Share on Google+1Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0

Taukah anda tempat yang paling enak di dunia? Orang biasanya menyebutnya sebagai zona kenyamanan. Di dalam zona ini, kita merasa bisa bermalas-malasan dan tidak ingin beranjak pergi. Tapi, jika kita terus terbuai di zona nyaman tentu juga menghilangkan kepuasan, sulit berkembang, dan takut menghadapi tantangan dari hidup. Aktivitas yang dijalani terasa menjadi monoton dan kita bisa berhenti untuk belajar sesuatu yang baru.

Keluar dari zona nyaman bukan hanya merupakan pilihan, melainkan keharusan.  Orang yang tidak berani keluar dari zona nyaman tidak akan bisa maju. Bahkan, bisa jadi, ia tidak dapat bertahan hidup. Istilah populernya, ia akan mengalami seleksi alam.

Hal ini dikarenakan, dunia kita sekarang ini merupakan dunia yang penuh ketidakpastian. Setiap langkah yang kita tempuh, setiap tempat yang kita pijaki, senyaman apa pun ia, tetap saja mengandung ketidakpastian. Keluar dari zona nyaman merupakan salah satu seni untuk bertahan di dunia yang penuh dengan ketidakpastan ini.

comfort-zone

Prof Rhenald Kasali, dalam artikelnya di kompas.com, mengatakan bahwa mungkin inilah yang tidak banyak dimiliki SDM kita, yaitu kemampuan untuk keluar dari zona nyaman. Tanpa keterampilan itu, perusahaan-perusahaan Indonesia akan “stuck in the middle,” birokrasi kita sulit “diajak berdansa” menjelajahi dunia baru yang penuh perubahan, dan kaum muda sulit memimpin pembaharuan. Tidak hanya itu, orang-orang tua juga kesulitan mendidik anak-anaknya agar tabah menghadapi kesulitan. Dengan memberikan pendidikan formal yang cukup atau kehidupan yang nyaman tak berarti mereka menjadi manusia yang terlatih menghadapi perubahan.

Dunia kita sekarang ini merupakan dunia yang penuh dengan segala ketidakpastian. Setiap langkah yang kita tempuh, setiap keputusan yang kita buat, setiap tempat yang kita singgahi, senyaman apapun tetap saja memiliki ketidakpastian. Dengan belajar untuk keluar dari zona nyaman merupakan langkah tepat untuk tetap bertahan di dalam ketidakpastan dunia ini.

Kita berpikir, apa-apa yang kita kerjakan dan membuat kita mahir sehari-hari sudah final. Dengan cara seperti itu maka kita akan melakukan hal yang sama berulang-ulang sepanjang hari, melewati jalan atau cara-cara yang sama sepanjang tahun. Padahal segala sesuatu selalu berubah. Ilmu pengetahuan baru selalu bermunculan dan saling menghancurkan. Teknologi baru berdatangan menuntut ketrampilan baru. Demikian juga peraturan dan undang-undang. Pemimpin dan generasi baru juga mengubah kebiasaan dan cara pandang. Ketika satu elemen berubah, semua kebiasaan, struktur, pola, budaya kerja dan cara pengambilan keputusan ikut berubah. Ilmu, keterampilan dan kebiasaan kita pun menjadi cepat usang.

Seperti yang sering dikatakan oleh Direktur Utama PT. Asuransi Takaful Keluarga, Ronny Achmad Iskandar langsung pada penulis, bahwa orang yang sepanjang hidupnya terjebak dalam zona nyaman dalam bekerja, misalnya selama 10 tahun, itu artinya pengalamannya bekerja hanya 1 tahun dan hanya diulang-ulang selama 9 tahun.

“Menyedihkan jika kita sampai mengalami hal tersebut. Karir tidak maju-maju, kualitas hidup tidak beranjak dan perusahaan tempat bekerja pun suatu saat berhenti mengapresiasi kontribusi kita,” jelasnya saat ditemui di ruang kerjanya.

Fakta bahwa jalan-jalan yang nyaman untuk dilewati juga cepat berubah menjadi amat crowded dan macet, sementara selalu saja ada jalan-jalan baru. Orang-orang yang terperangkap dalam zona nyaman biasanya takut mencari jalan, tersasar atau tersesat di jalan buntu. Padahal solusinya mudah sekali: putar arah saja, bedakan a dead end dengan detour. Orang-orang yang tak terbiasa keluar-masuk dari zona nyaman punya kecenderungan mengutuk jalan buntu karena ia merasa tersesat di sana, padahal orang biasa yang terlatih keluar dari zona nyaman, bisa melihat jalan keluar.

Dalam hal ini, kita sebetulnya memiliki tauladan yang sangat tepat, yaitu Rasulullah SAW. Sepanjang hidupnya, beliau menjalani pasang surut kehidupan dan masih tetap senantiasa bersyukur. Coba bayangkan, hidup dengan seorang istri yang shalihah. Bukan hanya shalihah, tapi juga merupakan pengusaha wanita yang sukses dan kaya. Selain itu, beliau hidup di sebuah kota dimana kakek serta paman-paman beliau merupakan orang yang sangat berpengaruh di kota tersebut. Beliau mendapatkan penghormatan dari masyarakat bukan hanya karena keluarganya yang berpengaruh tetapi pribadi beliau sendiri yang memukau, yang terkenal dengan kejujurannya sehingga mendapatkan gelar “Al Amin”.

Itulah kehidupan nyaman beliau sebelum menjadi seorang Rasulullah. Semenjak beliau mengikrarkan akan membawa misi mulia, menuju yang lebih tinggi, beliau benar-benar meninggalkan kenyamanan yang beliau miliki selama ini. Karena tidak mempan dengan bujukan harta, tahta, dan wanita, maka teror, ancaman, fitnah, dan berbagai hal yang menyakitkan datang silih berganti agar beliau berhenti menyebarkan risalah suci.

Pengikut beliau pernah hijrah ke negeri orang dengan melalui perjalanan panjang dan sampai akhirnya hijrah ke Madinah. Beliau diancam untuk dibunuh, pengikut beliau diteror bahkan tidak sedikit yang mengalami siksaan dan pembunuhan.

Kontras dengan sifat beliau yang lembut dan penyayang, beliau harus memimpin berbagai perang yang ganas demi menegakkan kalimat tauhid. Perang yang mengerikan, dimana musuh-musuhnya hampir selalu memiliki kekuatan fisik jauh lebih besar bahkan berlipat-lipat. Beliau pernah terluka, kehilangan banyak sahabat bahkan paman tercinta beliau Hamzah, semoga Allah meridlainya.

Itulah contoh sebuah perubahan dalam kehidupan yang dialami oleh manusia teragung sepanjang zaman. Perubahan dari suatu kondisi yang nyaman menjadi kondisi yang tidak nyaman, yang memerlukan banyak pengorbanan dan kerja keras. Semua itu demi sebuah misi yang diperintahkan Allah SWT kepada beliau, dan kita. Misi yang diperlukan untuk membawa umat manusia ke tingkat yang lebih tinggi dari keterpurukan yang disebabkan oleh ulah manusia sendiri.

Kata orang bijak, keajaiban jarang terjadi pada mereka yang tak pernah keluar dari “selimut rasa nyamannya.” Prof Rhenald Prof Rhenald Kasali, juga mengatakan bahwa keajaiban itu hanya ada di luar zona nyaman yang kita sebut sebagai zona berbahaya (a danger zone). Zona berbahaya ini seringkali juga dinamakan sebagai zona kepanikan (panic zone). Tetapi untuk menghindari kepanikan, para penjelajah kehidupan telah menunjukkan adanya zona antara, yaitu zona belajar (learning zone atau challenge zone). Orang yang terbelenggu dalam zona nyaman kesulitan untuk belajar lagi dan membuang pandangan-pandangan lamanya. Ia menjadi amat resisten dan keras kepala.

Kalau kita berani melewati jalan tak nyaman, lambat laun kita pun bisa meraih kemahiran. Kalau sudah mahir dan nyaman, jangan lupa cari jalan baru lagi. Seorang climber, kata Paul Stoltz terus mencari tantangan baru. Ia bukanlah a quiter atau a camper. Siapa yang tak ingin hidup mapan dan nyaman? Kita bekerja keras untuk meraih kenyamanan dan ketenangan hidup, tetapi para ahli mengingatkan itu semua hanyalah ilusi. Dalam zona nyaman tak ada kenyamanan, tak ada mukjizat selain mereka yang berani keluar dari selimut tidurnya.

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook1Share on Google+1Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0
One Response
  1. Greta 2 months ago

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *