Werdha Candratrilaksita: Presiden, Bergegaslah..

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook0Share on Google+1Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0

Oleh: Werdha Candratrilaksita

4 November 2016, telah terjadi unjuk rasa damai yang dihadiri lebih dari 2 juta orang. Unjuk rasa yang dipicu kemarahan sebagai reaksi atas ucapan Ahok yang telah mengomentari ajaran agama yang bukan ajaran agama yang Ahok anut.

Pada petang hari dan malam hari pada hari unjuk rasa itu,  telah terjadi sedikit kericuhan yang diduga ada penumpang gelap yang menjadi provokator. Kemudian atas hal itu, presiden menyimpulkan bahwa ada aktor politik yang menunggangi.

Namun, cobalah dilihat kericuhan di penjaringan dan penjarahan alfamart, apakah itu aktor politik? Saya melihat di tayangan televisi bahwa kericuhan di penjaringan dan luar batang dilakukan oleh massa masyarakat. Tentunya itu bukan aktor politik, tetapi komponen warga masyarakat yang mungkin marah dengan Ahok atau presiden Jokowi. Mereka ikut bergerak tak terpimpin, dan berpotensi sangat destruktif. Kemarahan komponen warga masyarakat itu mungkin saja adalah korban kebijakan pemerintah baik pusat maupun daerah, seperti penggusuran dan mungkin kesulitan ekonomi.

Berkaca dari kompleksitas penunggang aksi unjuk rasa, saya pikir terlalu dini jika presiden menyimpulkan hanya aktor politik an sich yang menjadi sebab kericuhan.

Presiden harus fokus pada tuntutan unjuk rasa agar unjuk rasa ini tidak timbul berepisode hingga berlarut larut. Hal itu, akan berpotensi mengganggu stabilitas nasional kita.

Langkah hukum cepat dan luar biasa terkait tuduhan pelanggaran pasal 156 KUHP harus segera dilakukan. Presiden secara adminitratif dapat memerintahkan kapolri sebagai pembina tertinggi penyidik agar menerbitkan peraturan kapolri atas hal ini. Sekalipun memang bersalah atau tidak bersalah Ahok ditentukan oleh palu hakim, baik di tingkat pertama, banding, kasasi, bahkan peninjauan kembali. Namun, setidaknya upaya presiden dan kapolri untuk cepat mentersangkakan Ahok akan meredakan tensi kemarahan umat Islam.

Sehingga diharapkan tidak ada lagi unjuk rasa yang berpotensi ditunggai banyak pihak. Sekalipun memang potensi unjuk rasa akan terus terjadi, namun sasarannya bukan lagi presiden. Sasaran unjuk rasa nantinya beralih ke yudikatif (pengadilan) pada proses persidangan kasus ahok.

Ketika revolusi mendatangai maka pena-pena para sarjana menjadi tak tergores. Kata-kata orator tak terdengar. Taktik politisi tak berdaya. Yang ada hanya perasaan yang terhubung telepati hati yang sedang marah bersama, kecewa bersama, untuk bergerak bersama, menuntut bersama, menghancurkan apapun penghalang tak peduli apapun itu. Itulah yang akan terjadi. Berhati2lah berucap dan menstigma wahai politisi dan sarjana.

Politik fragmentasi dan stigmatif tak akan berdaya, apalagi hanya tesis kambing hitam. Karena revolusi itu ultimatif perasaan hati yg bersama terhubung dg telepati hati yang sedang merasakan perasaan sama. Itu soal perasaan yang terakumulasi secara masif. Berbahaya dan menghancurkan. Semoga menjadi renungan bersama

Presiden bergegaslah…

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook0Share on Google+1Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *