Wawancara Eksklusif: Menteng Hilang, Lebak Bulus Terbuang

Lebak Bulus
Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook117Share on Google+0Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0

‘Stadion bisa dirubuhkan.. tapi tidak dengan kenangan. Lebak Bulus 1978-2014’ Begitulah salah satu grafiti di tembok Stadion Lebak Bulus yang tinggal menanti giliran untuk digodam diratakan dengan tanah. Stadion Lebak Bulus memang sedang dalam proses dirubuhkan sebagai dampak dari pembangunan Mass Rapid Transit (MRT).

Lebak Bulus merupakan kandang dari Persija Jakarta sekaligus markas bagi suporternya, The Jakmania. Bagi Persija ini bukan pertama kalinya mereka menjadi ‘korban’ pembangunan. Pada 2006 rumah mereka Stadion Menteng juga digusur. Betapa klub setua dan sebesar Persija dengan suporter semasif Jakmania mengalami juga nasib layaknya kaum urban, digusur dipinggirkan.

Lebak Bulus3

Lebak Bulus5

ObrolanUrban mendapat kesempatan mewawancarai secara eksklusif Ferry Indra Syarief, sosok yang pernah menjadi ketua umum Jakmania dan juga asisten manajer Persija. Orang yang ikut mengalami pasang surut Persija dan Jakmania, mengalami periode Menteng dan Lebak Bulus sebagai masyarakat, suporter, dan pengurus klub.

Ferry Indra Syarif

Berikut wawancara ObrolanUrban dengan Bung Ferry:

Arti Stadion Lebak Bulus bagi Anda?

Hiburan buat gue. Jogging di sana, latihan Tae Kwon Do di sana, main basket, main bola, pernah jadi tempat nongkrong jaman ada Pije Pije (Pusat Jajan Pelita Jaya). Nonton bola mulai dari Pelita Jaya, Persija Jakarta, PON, Piala Coca Cola, Piala Emas Bang Yos. Banyak banget deh. Pertama nonton Pelita Jaya tapi lawannya lupa. Stadion masih kosong kok jarang ada yang nonton dan Pelita belum punya fans club.

Bisa diceritakan sejarah the Jakmania mendapat tempat di Lebak Bulus?

2006 Menteng digusur. Namanya gusur ya arogan. Ga pake ngomong langsung angkut barang langsung ancurin bangunan. Barang-barang the Jakmania banyak yang ilang hingga nongol di tv. Ada anak Jakmania lagi protes ke Bang Yos (Sutiyoso – waktu itu Gubernur DKI) lewat tulisan di kardus bekas minuman mineral yang ditaruh di tumpukan puing Menteng. Bang Yos nonton dan langsung nelpon gue nanya apa masalahnya. Setelah gue jelasin dia langsung janjiin ganti semua mulai dari lokasi sekretariat hingga barang-barang yang hilang. Gue minta stadion Lebak Bulus jadi markas baru Jakmania. Selanjutnya komunikasi dilanjutkan oleh Pak Firman Hutajulu Kabawasda saat itu dengan Mas Danang Ismartani Ketum the Jakmania saat itu. Akhirnya kita dapat ruang yang selama 8 tahun ditempati.

Apa pertandingan paling berkesan selama di Lebak Bulus?

Menang WO (walk out) lawan Persib Bandung. Karena gue bisa buktikan kalau KITA BISA. Putaran 1 ketika main di Bandung, Persija dapat perlakuan ga enak dari Viking. Gue minta anak Jak Bandung kumpulin seluruh koran Bandung yang ada berita tentang penyerangan Viking ke Persija mulai dari hotel tempat nginep, pas uji lapangan, hingga pas menuju stadion. Lalu gue kliping dan kirim sebagai lampiran dari surat protes ke Komdis PSSI Bang Togar Manahan Nero. Nadanya adalah “Apabila tindakan seperti ini tidak dikenakan sanksi, maka PSSI telah membiarkan anarkisme terjadi di sepak bola nasional. Dan hal ini ngga menutup kemungkinan akan terulang di Jakarta maupun tempat lainnya. Karena ini jadi contoh buruk bagi suporter manapun dan merupakan tindakan kontraproduktif bagi upaya memajukan sepakbola nasional.” Sayang surat itu malah ditanggapi sebagai ancaman dan PSSI tidak memberikan hukuman setimpal.

Gue jelas khawatir terjadi tindakan anarkis serupa di Jakarta. Oleh karena itu emosi anak-anak harus lebih terarah. Militansi Jakmania harus dibuktikan dengan kehadiran di stadion dengan jumlah yang luar biasa hingga pinggir lapangan tapi tanpa ada tindakan anarkis terhadap tim lawan. Karena Jakmania harus bisa buktikan kalau Persija bisa menang tanpa harus melakukan lempar batu atau pukul pemain tamu. Karena pemain bola adalah aset nasional yang tidak boleh dianiaya. Tapi mereka juga harus merasakan bagaimana rasanya bermain di kandang lawan yang suporternya berjajar hingga pinggir lapangan. Ngga ada maksud lain selain kasih pembelajaran kalau Persib harus bisa lebih tertib lagi mengatur suporternya. Hasilnya malah di luar dugaan. Persib menolak tanding dan Persija menang WO.

Pengalaman paling tidak mengenakkan?

Kalah WO dari Persiwa. Waktu itu gue sudah di manajemen. Ijin kepolisian sulit didapat panpel dan biasanya h-1 baru ada kepastian. Padahal aturan PT Liga h-7 harus sudah ada kepastian dan h-1 pas technical meeting udah ada surat resmi dari polisi. Sayang hingga hari H polisi tetap ngga ngasih ijin meski Pak Toni Tobias sudah pasang badan. Kita akhirnya dinyatakan kalah WO. Padahal Persija saat itu lagi upaya merangkak naik di klasemen bersaing dengan Arema dan Persipura setelah 12 partai berturut turut tanpa kalah sejak Bendol (Benny Dolo) kembali dari timnas.

Kejadian ini menimbulkan trauma ke pemain karena tahun sebelumnya kita 1,5 bulan ngga dapat izin di Jakarta dan main di Malang. Sebelumnya partai lawan Persitara juga tertunda. Tadinya diharapkan 2 partai ini akan jadi ladang poin Persija untuk menempel Persipura, calon lawan berikutnya.

Prosentase kemenangan Persija di Lebak Bulus sangat tinggi mencapai sekitar 80%, ada rahasianya?

Gue malah kurang pantau soal prosentase. Tapi mungkin karena faktor jarak penonton ke lapangan begitu deket sehingga pressure lawan lebih kerasa dan suport ke pemain sendiri juga lebih kental.

Sebelum Lebak Bulus, Persija juga pernah kehilangan markasnya (Stadion Menteng). Ada pendapat?

Menteng hilang, Lebak Bulus terbuang. Ini bukti kalau sepak bola di Jakarta hanya jadi prioritas ke sekian bagi Pemda DKI. Padahal lewat Persija dan the Jakmania, bisa dijadikan alat pemersatu anak muda Jakarta. Terbukti saat itu tawuran antar SMA maupun antar kampung berkurang jauh. Dan siapa pula yang dengan bangga pake kaos Gue Anak Jakarta kemana mana? Secara tidak langsung Persija dan the Jakmania menumbuhkan rasa cinta pada Kota Jakarta. Kecintaan yang bisa diharapkan untuk sama-sama saling menjaga kotanya sendiri baik dari segi keamanan, kesehatan maupun keindahan.

Lalu soal stadion BMW sebagai stadion pengganti?

Itukan hanya pemanis bibir para pejabat yang lagi ingin mendapat dukungan demi jabatan yang lebih tinggi. Mereka lupa janji adalah hutang. Belum lagi doa dari orang-orang yang teraniaya akibat penggusuran.

Dicari dengan kata kunci:

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook117Share on Google+0Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0
About Syakib 252 Articles
Suka nulis dan suka baca tapi gak suka ngedit jadi suka typo dan gak sesuai EYD tulisannya...