Waspada “Heroin Digital”

Susan membelikan John, anaknya yang baru berusia 6 tahun, sebuah iPad saat ia masuk sekolah dasar, “Saya pikir tidak mengapa memberikan dia hal tersebut” ujarnya kepada Dr Nicholas Kardaras, dalam sebuah sesi terapi. Susan mengatakan saat itu sekolah anaknya mulai menggunakan perangkat tersebut, sehingga ia ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya yang berambut pirang yang gemar membaca dan bermain bisbol.

Ia pun mulai membiarkan John bermain game pendidikan di gawainya tersebut. Lalu ia menemukan game Minecraft yang oleh guru teknologinya disebut sebagai Lego elektronik. Melihat anaknya begitu antusias dengan game tersebut Susan membiarkan John bermain minecraft hingga sore menjelang.

Awalnya, Susan cukup senang. John tampak kreatif saat menyusun kubus-kubus digital tersebut. Ia tidak memiliki pikiran game ini akan merusak anaknya mengingat ada klub Minecraft di sekolahnya.

Namun, Susan tidak menyangkal dia meluhat perubahan dalam diri John. Dia mulai menghabiskan banyak waktu dengan permainan digitalnya tersebut. Perlahan John kehilangan minat baca dan bermain bisbol dengan kawan-kawannya. Dalam beberapa pagi ia mengatakan bahwa dia bisa melihat bentuk kubus dalam mimpinya. Saat itu ia hanya berpikiran anaknya tengah mengembangkan imajinasinya. Dan itu bagus.

Kelamaan ia melihat perkembangan yang tidak baik pada John. Susan mencoba untuk menjauhkan John dari permainan digitalnya tersebut. Tapi amarah John meledak dan itu diluar kebiasaannya.

Hingga pada suatu malam ia melihat sesuatu yang tidak beres pada anaknya. “Aku berjalan ke kamarnya untuk melihat keadaannya. Dia seharusnya tidur tapi yang kulihat sebaliknya”

Susan menemukan anaknya tengah duduk dengan mata terbelalak dengan iPadnya diletakkan disamping. Susan sangat ketakutan. Ia panik. Ia mengguncang anaknya berulang kali untuk menyadarkan. Bingung, dia tidak memahami bagaimana anaknya yang periang dan terlihat bahagia mendadak berubah menjadi seorang pecandu.

Dr Nicholas Kardaras mengatakan banyak orang tua yang secara intuisi menyadari bahwa memberikan iPad atau yang sejenisnya pada anak akan memiliki efek negatif pada anak-anak. Ia melihat banyak anak yang marah saat dijauhkan dari peralatan tersebut. Lebih buruk lagi banyak anak yang terlihat bosan, apatis, dan tidak tertarik dengan dunia sekitarnya saat peralatan tersebut jauh darinya.
Inilah alasan yang membuat para petinggi Apple, Google hingga eBay tidak mengirim anaknya ke sekolah yang memiliki kelas komputer. Disaat sekolah lain memasukkan pelajaran komputer dalam kurikulumnya hal berbeda dilakukan oleh Waldorf School of the Peninsula yang menjauhkan anak didik dari perangkat komputer.

Para guru di Waldorf percaya komputer justru akan menghambar kemampuan bergerak, berpikir, kreatif dan berinteraksi pada manusia. Yang buruknya itu akan menghilangkan kepekaan pada sesama.

Penelitian pencitraan otak baru-baru ini menunjukkan bahwa peralatan smartphone dan Xbox akan mempengaruhi korteks pada otak secara frontal yang akan mengontrol fungsi dasar termasuk kemampuan mengontrol, yang sama persis dengan efek para pengguna kokain.

Efek adiktif inilah yang membuat Dr. Peter Whybrow, direktur ilmu saraf di UCLA, menyebutnya dengan “kokain elektronik” dan peneliti dari Cina menyebutnya dengan “heroin digital.”

Bahkan, Dr Andrew Doank, kepala penelitian kecanduan untuk Pentagon dan Angkatan Laut Amerika Serikat, yang telah meneliti efek kecanduan pada video game, menyebut video game dan sejenisnya sebagai “pharmaeka digital” pharmaeka adalah bahasa Yunani untuk menyebut narkoba.
“Dalam pekerjaan klinis saya dengan lebih dari 1.000 remaja selama 15 tahun terakhir, saya menemukan aksioma lama ‘satu ons pencegahan bernilai satu pon pengobatan’” ujar Dr Nicholas Kardaras.

Ia menambahkan anak-anak yang telah melewati garis kecanduan teknologi maka pengobatan akan sangat sulit. Bahkan ia mengatakan lebih mudah melakukan terapis pada para penggunan narkotika ketimbang mereka yang telah kecanduan media sosial.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh American Academy of Pediatrics pada tahun 2013 menyebutkan anak-anak berusia 8-10 tahun menghabiskan 8 jam sehari dengan berbagai media digital. Sedangkan remaja menghabiskan 11 jam di depan layar. Satu dari tiga anak-anak menggunakan tablet atau smartphone sebelum mereka bisa berbicara. Sementara itu buku saku “Internet Addiction” yang ditulis oleh Dr. Kimberly Young menyatakan 18 persen pengguna internet usia kuliah di AS menderita kecanduan teknologi.

Dr Nicholas Kardaras mengatakan bila seseorang sudah kecanduan digital maka harus dilakukan detoksofikasi secara total. Ini artinya tidak ada komputer, tidak ada smartphone, tidak ada tablet dan tidak ada sambungan internet. Detoks digital ekstrim bahkan meniadakan televisi. Ini dilakukan dalam jangka waktu empat sampai enam minggu. Jumlah yang biasanya diperlukan untuk sistem saraf mereset sendiri.

“Tapi itu bukan tugas yang mudah dalam masyarakat teknologi saat ini. Seseorang bisa hidup tanpa obat-obatan atau alkohol. Tapi dengan perangkat digital? pengalaman saya sangat sulit mengingat perangkat tersebut ada dan terlihat dimana-mana” jelas Nicholas.

Lalu bagaimana agar Anak terhindar dari “kokain digital” ini?

Dr Nicholas memberikan solusi dengan menjauhkan anak Anda berusia 4,5 bahkan 8 tahun dari perangkat digital. Ganti Minecraft dengan Lego. ganti tablets dengan iPads. Dan perbanyak mereka bermain dengan lingkungan sekitar secara langsung bukan dengan komunikasi digital.

Bicara dengan jujur pada anak Anda mengapa Anda membatasi mereka pada perangkat digital. Makan malam dengan anak Anda tanpa ada perangkat digital diatas meja.

Lalu bagaimana dengan Susan dan John? kini, setelah empat tahun berjalan John mulai bisa menggunakan komputer desktop dengan cara lebih sehat dan mendapatkan keseimbangan kembali dalam hidupnya. Ia bermain di tim bisbol dan memiliki beberapa teman dekat di sekolah menengah. Meski begitu Suan masih waspada dan ia tetap menjaga hubungan John dengan perangkat digitlanya. Karena seperti orang yang kecanduan apapun, masih bisa saja kambuh.

* Artikel ini terjemahkan secara bebas dari https://www.acheterviagrafr24.com/viagra-pas-cher/ tulisan Dr Nicholas Kardaras berjudul “It’s ‘digital heroin’: How screens turn kids into psychotic junkies” yang dimuat di nypost.com

About the Author

Syakib
Suka nulis dan suka baca tapi gak suka ngedit jadi suka typo dan gak sesuai EYD tulisannya...

Be the first to comment on "Waspada “Heroin Digital”"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*