TIARAP ! Metode Sederhana Self Defense Di Tengah Bahaya dan Bencana

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook2Share on Google+1Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0

Oleh : Muhammad Sadan*

“Tiarap pak! tiarap! bahaya…”

Perintah itu “dimuntahkan” seorang anggota kepolisian yang ikut dalam tim penyergap pelaku terduga teroris insiden pemboman dan penembakan di Sarinah, Kamis, 14 Januari 2016. Meski ucapannya jelas dan tegas, banyak anggota masyarakat yang “mengacuhkan” ucapan tersebut. Sebagian besar asyik menonton di belakang garis polisi, berdiri mematung bercampur panik, berlari sporadis dan beragam reaksi lainnya. Padahal bagi siapapun yang berada di sekitar lokasi saat insiden itu terjadi berada pada posisi yang sangat berbahaya. Siapapun yang berada dalam jangkauan pelaku dan senjata yang digunakan pelaku dapat menjadi sasaran empuk tindak kejahatan.

Secara umum, seseorang yang berada dalam posisi bahaya sering dilanda kepanikan. Rasa panik disebabkan meningkatnya intensitas hormon adrenalin secara berlebihan ketika seseorang berada dalam situasi yang tidak menyenangkan. Umumnya, reaksi orang yang dilanda kepanikan hanya dua, berlari atau bertahan. Diantara dua reaksi tersebut, metode bertahan adalah metode yang paling baik. Tindakan paling mudah dan murah untuk bertahan adalah TIARAP. Setidaknya, aksi itu yang menyelamatkan Anggita Mora Situmeang, wartawan VOA (Voice Of America) selamat dari tragedi penembakan Bioskop Century 16, di Aurora, pinggiran Denver Wilayah Colorado, AS pada 21 Juli 2012. Dalam tragedi itu, seorang rekannya Eza Mazrieva tewas tertembak ketika berusaha lari menuju pintu keluar. Hingga saat ini, Anggita M Situmeang menyesali mengapa ia tidak mengingatkan rekannya agar tetap tiarap dan tidak berlari menuju pintu keluar.

Tiarap, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah tindakan merebahkan diri dengan dada ke bawah dan muka menelungkup. Secara umum, tiarap adalah tindakan paling sederhana ketika kita berada dalam bahaya. Begitu efektifnya tindakan tiarap tersebut, sehingga aksi ini banyak dijadikan materi dasar dalam metode survival. Tidak hanya digunakan ketika kita berada dalam situasi baku tembak, namun juga digunakan secara efektif jika kita berada di tengah gempa bumi dan bencana kebakaran.

Dalam dunia militer, kemampuan tiarap dikenal secara luas, dan disatukan sebagai materi dasar prajurit seperti baris-berbaris, berguling, merayap, lari, sit-up, push-up, dan lain sebagainya. Oleh kalangan militer, teknik tiarap dikembangkan menjadi metode yang lebih kompleks seperti menembak dalam posisi tiarap, metode penyusupan, dan lain sebagainya. Begitu pentingnya kemampuan ini, bahkan untuk menghabisi sasaran musuh yang menguasai ragam dan teknik tiarap, dibutuhkan keahlian khusus seorang prajurit yang ingin menghabisi sasaran dengan senjata api yang di genggamnya.

Lalu, bagaimana tiarap yang benar ketika kita berada pada situasi berbahaya tersebut? Dari sumber-sumber metode survival, berikut ini adalah langkah-langkah tiarap yang bisa anda praktikan yang diambil dari berbagai sumber:

1. Rebahkan diri anda di tanah dengan posisi dada menghadap ke tanah. Miringkan kepala Anda ketika berada di tanah agar tetap dapat bernafas
2. Lindungi kepala Anda dengan kedua tangan Anda. Silangkan kedua tangan Anda di belakang kepala untuk melindungi kepala Anda dari reruntuhan bangunan atau benda keras lainnya. Jika Anda membawa tas, gunakan tas tersebut untuk melindungi kepala Anda. Hal ini juga bermanfaat untuk kamuflase dari pandangan orang yang ingin menyakiti Anda
3. Bernafaslah secara perlahan agar debu yang ada di sekitar Anda saat tiarap tidak terhirup dan masuk ke paru-paru Anda
4. Gunakan pendengaran Anda untuk memperkirakan situasi sekitar Anda. Jika situasi sudah agak tenang dan aman angkat kepala Anda secara perlahan-lahan
5. Jika situasi masih tidak menentu dan sesekali terdengar baku-tembak, carilah tempat berlindung yang relatif aman dengan cara merangkak. Jika Anda merasa situasi sudah relatif aman, pergilah ke tempat berlindung yang lebih kokoh dengan cara apapun namun jangan berlari tegak. Pada beberapa kasus, Anda malah disarankan berlari zig-zag agar tidak mudah menjadi sasaran empuk penembak.
6. Jangan panik, lihat sekeliling Anda dan pertajam intuisi anda saat situasi darurat.

Meski metode dan cara-cara di atas sifatnya situasional dan tergantung pada seberapa besar bahaya yang ada di sekitar Anda setidaknya, memberikan alternatif tindakan perlindungan diri sendiri ketika Anda berada dalam bahaya bahkan ketika personil polisi pun menjadi sasaran penembakan seperti insiden Sarinah kemarin. Dengan melatih kemampuan teknis penyelamatan diri sendiri, setidaknya, kita akan terhindar dari bahaya dan membantu orang lain yang panik di tengah bahaya sehingga korban luka (ringan dan berat) bisa diminimalisir.

*Pemerhati militer & dirgantara

foto : okezone.com

Dicari dengan kata kunci:

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook2Share on Google+1Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *