Terima Kasih Telah Menghibur Kami Pak Raden

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook0Share on Google+1Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0

Bagi kalian yang terlahir pada tahun 80-an pasti tak asing dengan tokoh berkumis tebal dan selalu memaki pakaian jawa lengkap dengan blangkon dan tongkat yang tidak ketinggalan. Tokoh yang dikenal pemalas, galak sekaligus tegas itu akan selalu kita temui pada minggu pagi di layar televisi.

Disaat teknologi belum akrab dan masuk kedunia anak-anak seperti saat ini serial Si Unyil merupakan tontotan yang kerap saya serta Kakak dan adik tunggu-tunggu.

Tokoh Pak Raden tidak bisa dilepaskan dari sosok Drs. Suyadi. Pria kelahiran Desa Puger pada 28 Nopember 1932 ini selain pengisi suara untuk tokoh Pak Raden juga merupakan pencipta karakter Unyil dan kawan-kawannya yang fenomenal tersebut.

Sejak kecil Drs Suyadi suka mendongeng. Tiap berkumpul dengan kawan-kawannya ia selalu membawakan cerita-cerita yang menarik. Ia suka mendongeng dengan menggunakan gambar atau dengan boneka.

Selain itu ia juga suka menggambar, bahkan saat ia kehabisan kertas dan alat tulis ia mampu menjadikan arang dan dinding rumahnya sebagai media untuk menyalurkan kreativitasnya.

“Dunia yang menyenangkan dan rasanya tidak ada kesusahan” begitu pandangan Drs Suyudi pada dunia anak-anak. Dunia anak menurutnya dunia yang seharusnya tidak terganggu oleh situasi macam-macam.

Meski Si Unyil diakui sebagai karya yang brilian dan mendapat pujian banyak pihak namun Drs Suyudi dengan jujur mengakui itu adalah sebuah kegagalan. Gagal karena karyanya tersebut tidak menghasilkan rejeki bagi kreatornya. Sebaliknya mereka yang tidak berbuat apa-apa, merekalah yang meraup keuntungan dari ‘Si Unyil’.

“Dengan berdalih bahwa hak cipta ‘Si Unyil’ pernah saya serahkan kepada pihak Perum Produksi Film Negara (PFN), maka PFN beranggapan bahwa saya telah kehilangan kepemilikan hak cipta terhadap ‘Si Unyil’”

Memang, pada 14 Desember 1995 Drs Suyudi membuat kesepakatan penyerahan hak cipta karakter Si Unyil kepada Perusahaan Umum Produksi Film Negara (PPFN). Namun, Drs Suyudi mengatakan hak cipta tersebut hanya diserahkan selama lima tahun sejak tahun 1995 hingga 2000. Tapi entah kenapa PPFN tetap berdalih hak cipta si Unyil berada ditangan mereka.

Maka pada tahun 2012 Drs Suyudi menggelar protes dengan mengamen di rumahnya untuk memperjuangkan hidupnya dan hak cipta si Unyil. Dibantu komunitas teman-teman muda Pak Raden dalam acara tersebut menyanyi dan juga menjaul aksesori kepada para penonton yang hadir.

Satu-satunya penghasilan yang didapat dari karakter Si Unyil adalah ketika ia menjadi pengisi suara dalam acara Laptop Si Unyil yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi nasional. Untuk membiayai kehidupan sehari-hari Ia melukis dan menggelar pertunjukan boneka.

Sehari-harinya tokoh Pak Raden ini tinggal dalam rumah berukuran 100 meter persegi dengan tiga kamar, satu kamar tamu dan sebuah dapur. Dirumah yang tampak kusam dan tak terawat tersebut Ia hidup bersama pengasuhnya Madun dan Nanang. Drs Suyudi memang tidak menikah dan tidak memiliki keturunan.

Jumat (30/10) malam Drs Suyudi menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pelni, Petamburan. Sebelumnya pada Jumat siang Pak Raden dilarikan ke rumah sakit karena infeksi berat di paru kanan.

Selamat jalan Drs Suyudi atau Pak Raden, terima kasih telah mengisi masa kecil kami dengan tontonan yang menghibur meski karya tersebut tak pernah “menghibur” pembuatnya.

Dicari dengan kata kunci:

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook0Share on Google+1Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *