Serial Tumbuh Kembang Anak – Bagian 2

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook10Share on Google+0Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0

Kemarin Obrolan Urban sudah membahas mengenai Serial Tumbuh kembang anak bagian 1

Masa Bayi (0-2 Tahun)

Setiap aspek dalam tahap perkembangan bayi amat menarik untuk diperhatikan. Entah itu saat dia mulai bisa tersenyum, tertawa, merangkak, duduk, berdiri, berespon ketika diajak bicara, ataupun menunjukkan kemampuan lain yang sesuai dengan tahapan perkembangannya. Walaupun setiap bayi memiliki keunikannya sendiri, namun pada umumnya, setiap bayi memiliki tahapan perkembangan emosi yang dapat diprediksi polanya.

Usia 0-12 Bulan

Bayi yang berusia 0-3 bulan sudah mulai dapat beraksi terhadap porang tuangan dan suara. Untuk beberapa detik, bayi sudah mulai bisa melihat dan menata, bahkan memberikan respon jika diajak bicara atau tersenyum. Bayi mungkin seringkali menangis, namun biasanya bisa segera diatasi dengan memberinya rasa nyaman melalui pelukan, diberi makan, diganti popoknya, digendong ataupun diajak bicara. Selain itu mereka juga sudah mulai dapat mengenali orang-orang yang sering dilihat atau berada di dekatnya.

Karena pada 3 bulan pertama ini bayi sepenuhnya bergantung pada orang tua, maka kebutuhannya untuk mengatasi perasaan negatif yang dialaminya, seperti stres, takut, frustrasi dan lain sebagainya juga sepenuhnya berada pada orang tua. Pada saat ini, yang terpenting baginya adalah merasakan bahwa orangtuanya selalu ada untuknya, setiap kali ia membutuhkan. Dengan begitu, kepercayaannya terhadap orang tua pun mulai terbentuk.

Rene Brummage, pakar perkembangan anak mengatakan, Lingkungan anak memegang peranan yang penting dalam membentuk kepribadiannya. Lingkungan yang penuh kasih sayang akan mendorongnya memiliki emosi yang stabil. Sebaliknya, lingkungan yang penuh dengan tekanan akan membuatnya tumbuh dalam ketakutan.

Pada masa 3-6 bulan, bagian otak bayi yang membantunya mengatasi dan mengontrol emosi mulai tumbuh. Dia pun menikmati interaksi dengan orang lain dan menunjukkan minat yang sangat besar dalam melihat wajah orang lain. Para ahli meyakini, ekspresi dan aneka simbol yang ditunjukkan oleh wajah tak hanya dapat membantunya membangun hubungan dengan dunia tetapi juga dapat menolongnya membangun ikatan emosi yang kuat dengan orang-orang yang menyayanginya, terutama orangtuanya. Dari setiap respon yang diberikan orang-orang dewasa di sekitarnya, ia belajar bahwa senyuman, tangisan, dan hal-hal lain yang dilakukannya dapat memberinya respon emosional balik.

Untuk membantu perkembangannya, cobalah untuk melakukan permainan kata atau mencoba membuat bunyi-bunyian bersama. Kemudian doronglah dia untuk mencoba menirukan bunyi-bunyian yang disukainya. Walaupun dia belum mengerti, Orang tua harus berusaha untuk terus berinteraksi dengannya melalui obrolan, membacakan cerita ataupun bernyanyi untuknya. Cara lain yang bisa Orang tua lakukan adalah bermain si kecil di depan kaca. Rene mengatakan, Cara ini tak hanya dapat memberinya porang tuangan yang lebih baik tentang dirinya tapi juga dapat mendorong perkembangan emosi yang positif terhadap sosok yang dilihatnya di cermin.?

Untuk menunjukkan perasaan tidak senang, bayi sudah mulai dapat menunjukkannya dengan mengeluarkan suara-suara lain selain menangis. Jika ia merasa senang, ia pun dapat menunjukkannya dengan senyum, tertawa atau memperdengarkan suara-suara menyenangkan lainnya. Intinya, bayi sangat suka diperhatikan dan tersenyum pada orang-orang yang dikenalnya. Sebaliknya ia pun bisa menunjukkan rasa takut jika berada dekat dengan orang-orang baru.

Pada usia 6-9 bulan, bayi yang diasuh dengan penuh cinta dan kasih sayang yang konsisten sudah memiliki ikatan sosial emosi yang kuat dengan orangtua dan pengasuh lain yang penting dalam hidupnya. Semakin kuat ikatan, semakin kuat pula kepercayaan si kecil. Dalam memorinya, ia pun telah membeda-bedakan orang di sekitarnya menjadi dua yaitu, orang yang disukainya atau orang asing. Karena itu, ia pun mulai menunjukkan rasa kehilangan dan protes yang kuat (separation anxiety) jika berada jauh dari orang yang dekat dengannya.

Hillary Kruger MD, pakar perkembangan dan perilaku anak menambahkan, bayi pada periode ini sudah dapat mengetahui jika orangtuanya meninggalkan ruangan lalu kemudian mencarinya. Ketakutan dan ketidaksukaannya terhadap orang asing pung semakin kuat ditunjukkan (stranger anxiety), misalnya dengan menangis atau dengan berlindung pada dewasa yang dikenalnya. Mereka juga sudah mulai menunjukkan penolakan terhadap sesuatu hal yang tidak disukai. Saat terbangun di malam hari, beberapa bayi pada usia ini berusaha mengatasi ketidaknyamanannya dengan memegang atau menggigit mainan yang disukai atau bahkan jarinya sendiri. Menginjak usia 8 bulan ke atas, bayi mulai menyukai permainan petak umpet. Sembunyikanlah mainan kesukaannya di bawah selimut, dan lihatlah bagaimana ia berusaha untuk menemukannya.

Pada usia 9-12 bulan, rasa takut terhadap orang asing dan kelekatan terhadap orang-orang yang memiliki arti khusus buatnya masih akan terus berlanjut tapi akan berangsur-angsur berkurang. Ekspresi, gerakan tubuh dan suara untuk menunjukkan perasaannya pun sudah berkembang semakin kompleks. Interaksi sosialnya pun makin berkembang. Hal ini ini ditunjukkan dengan ketertarikannya untuk mulai bermain dengan orang lain.

Hillary mengatakan, mendekati usia satu tahun anak mulai menikmati permainan yang bersifat resiprokal (berbalasan), seperti menggelindingkan dan menangkap kembali bola. Sejalan dengan pertumbuhan fisiknya yang memungkinkan dia untuk bergerak lebih bebas ke sana-ke mari, ketertarikannya pun tumbuh semakin besar untuk mengeksplorasi dunia sekitarnya. Menurut Hillary, hal itu biasanya ditunjukkannya dengan menunjuk suatu objek yang menarik agar orangtuanya pun ikut memberikan fokus dan perhatiannya.

Usia 13- 24 Bulan

Pada usia 13-15 bulan, begitu banyak hal baru yang mulai dilakukannya, terutama berkaitan dengan fungsi motorik kasarnya. Salah satu hal baru yang mulai dilakukan anak pada usia di atas 1 tahun ialah keterampilan berjalan. Grafik Milestone mencatat pada umumnya anak memulai proses belajar berjalan sejak usianya minimal 9 bulan sampai maksimal 18 bulan.

Proses anak belajar berjalan antara lain ditandai dengan anak merangkak, berjongkok, berdiri sendiri, menjaga keseimbangan dan mulai berjalan sedikit demi sedikit. Namun jangan terkejut bila salah satu implikasi dari proses ini anak akan sangat sulit digendong, dipangku atau ditahan di satu tempat. Hal ini wajar, karena ia baru saja merasakan kebebasan untuk menjelajah.

Tidak perlu terlalu panik apabila anak sering terjatuh, tahanlah keinginan untuk segera bergegas mengangkat dan mengobatinya, kecuali jika dia memang benar-benar terluka. Terjatuh sesungguhnya merupakan bagian dari proses belajar berjalan itu sendiri. Bersabarlah dan sediakan tempat yang aman bagi si kecil untuk bereksplorasi dalam kebebasan barunya.

Ketika anak sudah bisa berjalan selama beberapa minggu atau bahkan bulan, maka kepercayaan diri dan kemapanan anak pun semakin bertambah tiap harinya. Biasanya pada usia ini anak mulai senang memindahkan objek dari satu tempat ke tempat lain, sepertinya mereka tidak pernah lelah mendorong kotak atau ember mengelilingi ruangan. Bahkan anak akan mulai memanjat ke kursi atau meja. Antusiasmenya dalam menjelajah bisa saja melebihi kemampuannya, jadi orang tua perlu memonitor eksplorasinya dengan lebih waspada.

Anak mulai membiasakan diri menggunakan tangannya. Umumnya pada usia ini anak menyukai pekerjaan tangan berupa memasukkan dan mengeluarkan, misalnya meletakkan mainan ke dalam kotak lalu melemparkannya kembali ke luar. Atau terkadang anak akan menyusun menara kecil dari 2-3 kotak kecil kemudian meruntuhkannya. Anak sedang mengasah indera perabanya terhadap berbagai macam sentuhan. Mereka ingin menyentuh dan merasakan apapun dengan tangan mereka: hewan peliharaan, tanaman di halaman rumah, atau kucuran air dari keran.

Memasuki usia 16-18 bulan tentunya akan ada hal-hal baru yang dialami dan dipelajari oleh anak. Anak pada usia ini, rasa ingin tahunya sangat besar. Umumnya mereka akan merebut benda apa saja yang ada di sekitarnya, mengamati dengan cermat, memasukkan ke dalam mulut atau membantingnya ke lantai. Umumnya anak juga berambisi untuk menguji kemampuan mereka sendiri.

Menyadari dirinya sudah bisa berjalan, anak kemudian berusaha untuk berjalan sambil membawa beban. Begitu pula jika anak sudah yakin dia bisa memanjat ke atas sofa, ia akan berusaha memanjat ke kursi atau meja yang letaknya lebih tinggi. Jika ambisi petualangannya ini tidak diawasi dengan cermat, anak bisa terancam bahaya. Namun petualangannya tersebut juga sebaiknya jangan dihalang-halangi, sebab hal tersebut bermanfaat untuk mengasah keahlian anak dalam bergerak.

Untuk itu, langkah yang paling bijaksana ialah memberi kesempatan dan tempat yang aman dan nyaman bagi anak untuk memenuhi ambisi petualangannya. Pada usia ini anak juga dapat Orang tua ajak dalam permainan jongkok, berdiri dan melompat-lompat.

Pada rentang usia ini, anak mulai menunjukkan kecenderungannya, lebih sering menggunakan tangan kanan atau tangan kiri. Oleh sebab itu, pada usia ini pula Orang tua dapat mulai melatihnya membedakan fungsi tangan kanan dan kiri.  Yang perlu diingat, orangtua jangan terlalu keras menegur dan memaksa anak untuk menggunakan tangan yang benar, misalnya tangan kanan saat memegang makanan. Proses pemilihan tangan untuk melakukan suatu aktivitas akan berjalan secara natural meskipun pola pembiasaan juga berpengaruh. Tidak perlu bereaksi berlebihan kalaupun anak Orang tua ternyata kidal dan lebih nyaman menggunakan tangan kiri.

Atas, bawah, depan, belakang, di luar, atau di dalam, anak akan mulai belajar hal-hal ini sekitar usia ini. Untuk semakin menstimulasinya, orang tua dapat membuat berbagai permainan sederhana, misalnya menyuruh anak mencari suatu benda yang letaknya di bawah meja di dalam kamar kemudian memintanya untuk memindahkan benda itu ke atas kursi di bawah lukisan di ruang tamu, dan seterusnya.

Anak pada usia 19-21 bulan sepertinya semakin sulit dikendalikan, terutama dengan kesukaannya memanjat serta mencorat-coret, tapi sebenarnya dia sedang mulai melatih keseimbangan dan motorik halus. Pada usia ini, anak sedang melanjutkan pengujian terhadap daya penggeraknya. Dia akan semakin semangat berjalan ke belakang (backward), menyamping, menaiki dan menuruni tangga. Dia juga akan berusaha berlari ke sama kemari. Gerakan-gerakannya cenderung antusias sehingga bisa terkesan grasak-grusuk dan membuat Orang tua tidak tenang.

Akan tetapi hal ini sesungguhnya normal, termasuk jika ia sedikit demi sedikit tersandung dan jatuh. Yang penting Orang tua menyediakan tempat yang cukup nyaman dan aman baginya untuk berlari ke sana kemari, mengingat kemampuannya untuk mengendalikan belum sempurna, dia belum bisa memperkirakan kecepatan dan jarak yang ideal untuk berlari maupun berhenti.

Yang sulit dikendalikan umumnya adalah kesukaannya untuk mencorat-coret. Biasanya pada usia ini anak tertarik menggambar garis-garis vertical dan horizontal, juga lingkaran. Meski terlihat sebagai bentuk-bentuk sederhana, namun hal ini juga memiliki pengaruh baik bagi perkembangan anak. Menggenggam krayon saat menggambar melibatkan kerja motorik halus, serta koordinasi mata dan tangan, serta melatih imajinasi anak.

Kita mungkin sebenarnya tidak memiliki keberatan apapun untuk mendukung hobi baru anak ini, akan tetapi masalahnya seringkali anak sangat suka mencorat-coret tembok dan wajar saja bila orang tua merasa keberatan pada hal tersebut. Kita dapat memberi penjelasan secara perlahan pada anak bahwa tembok bukanlah tempatnya dia berkreasi, sediakan kertas, kanvas atau white board sebagai gantinya. Atau juga bisa menyediakan space khusus di tembok (misalnya Orang tua berikan batas bingkai dengan kayu atau kain) sebagai tempat anak bergraffiti.

Orang tua akan direpotkan dengan kebiasaan barunya yakni memanjat dan menguji keseimbangan tubuh. Meski hal ini pasti membuat Okhawatir, namun dengan menyediakan tempat yang aman baginya untuk berlatih memanjat dan melatih keseimbangan sesungguhnya sangat baik untuk menyalurkan energi anak dan mendukung perkembangan balita secara fisik.

Menjelang dan memasuki usia 2 tahun beberapa hal ini dapat ditemukan dalam tumbuh kembangnya. Jari-jari tangannya akan semakin cekatan, dia akan belajar berpakaian sendiri, dan dia akan siap untuk Toilet Training. Pada usia 22 bulan kemampuan motorik halus anak akan semakin dilatih dan disempurnakan. Untuk mendukung perkembangan ini, Orang tua dapat menyediakan berbagai mainan dengan bahan empuk yang mudah dibentuk seperti bahan-bahan dough, clay atau lilin mainan. Si kecil akan menikmati aktivitas yang menyibukkan jarinya seperti menekan, meremas, atau menggulung.

Lebih jauh lagi, bukan hanya jari-jarinya yang akan terlatih. Seluruh otot tangan dan pergelangan akan turut bergerak. Selain meningkatkan kemampuan motorik halusnya, hal ini juga mendukung pertumbuhan fisik dan mental anak. Misalnya saat akan menyusun balok menjadi suatu bangunan, maka sebelumnya anak akan terlatih untuk berpikir kreatif dalam menentukan bentuk bangunan yang akan disusun.

Sekitar usia 23 bulan, anak akan mulai ingin berpakaian sendiri. Biasanya dia akan mulai dengan mencoba menepis tangan orang tuanya dan membuka pakaiannya sendiri. Biarkan anak melakukannya, meskipun dia akan menghabiskan waktu lebih lama. Perhatikan cara anak saat melepaskan pakaiannya, karena dia bisa saja mengalami beberapa kesulitan. Setelah bisa membuka pakaian, biasanya anak juga akan mencoba memakai pakaiannya sendiri. Untuk memudahkan dia (dan orang tua juga sebenarnya), pilih pakaian yang relatif lebih sederhana dan mudah, misalnya dengan kancing yang besar dan tidak terlalu banyak, atau dengan retsleting.

Sebetulnya tidak ada patokan umur bagi seorang anak harus mulai melakukan toilet training. Namun umumnya sekitar usia 2 tahun bisa menjadi usia yang ideal untuk mencoba mengajari anak mengontrol BAB dan BAK-nya, serta belajar menggunakan toilet untuk buang air.
Jangan terburu-buru dan terlalu memaksakan si kecil, karena toilet training adalah proses yang memerlukan waktu yang tidak sama pada masing-masing anak. Sebaliknya, Orang tua justru harus memperhatikan kesiapan si kecil. Karena bagaimanapun, itulah kunci utama keberhasilan toilet training. Semakin siap anak maka akan semakin mudah juga untuk melatihnya.
Langkah paling sederhana bagi anak dalam belajar ialah melalui imitasi. Biarkan anak mengamati orang tua saat ke kamar mandi dan menggunakan toilet. Sebaiknya anak laki-laki melihat ayahnya dan sebaliknya anak perempuan melihat ibu, agar mereka tidak dibingungkan dengan perbedaan jenis kelamin.

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook10Share on Google+0Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0