Serial Tumbuh Kembang Anak – Bagian 1

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook15Share on Google+1Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0

Bagian 1: Tugas Perkembangan dan Pola Asuh

Keberhasilan atau minimal merasa berhasil dalam mendidik anak-anak dengan baik adalah impian semua guru dan orang tua. Setiap guru dan orang tua pasti ingin agar anaknya bisa sukses dan bahagia. Namun pada kenyataannya, hal tersebut tidaklah mudah dan sesederhana yang kita bayangkan. Mayoritas orangtua pernah mengalami kesulitan dalam mendidik anak-anak mereka.

Sebagai orang tua, menjadi sangat penting untuk menaruh perhatian tinggi dan peduli pada setiap perkembangan anak. Hal-hal sederhana yang dilakukan oleh para orang tua, pada hakikatnya akan selalu terekam pada memori anak dan biasanya akan menjadi acuan bagi anak dalam berperilaku. Ucapan yang keluar dari mulut dan sikap serta perilaku yang “berbahaya” bagi anak kita akan menjadi bahan pelajaran pertama dan utama bagi seorang anak dan menentukan perilaku mereka ke depan. Harus disadari betul bahwa anak tidak hanya perlu diajarkan sesuatu melalui komunikasi verbal, namun juga yang lebih penting adalah dengan komunikasi visual yang langsung maupun tak langsung, yang dilakukan secara sadar maupun tak sadar, akan menjadi bagian dari proses belajar anak dan terekam dalam otaknya.

Pada prinsipnya bagaimana pola ideal yang terjadi pada setiap anak sudah diteliti oleh para ahli psikologi selama bertahun-tahun. Pola-pola tersebut terekam dalam apa yang disebut sebagai tugas masa perkembangan anak. Apa yang secara umum terjadi pada anak, baik secara fisik, motorik, kognitif atau kecerdasan, kepribadian dan perilaku sebetulnya sudah memiliki pola yang baku. Namun permasalahannya, adalah pengetahuan tersebut tidaklah dimiliki oleh setiap orang. Padahal sudah begitu banyak buku, catatan, berita dan wawancara para tokokh mengenai hal tersebut yang bisa ditemui baik dalam jurnal-jurnal ilmiah maupun tulisan-tulisan sederhana, melalui opini para ahli dalam media massa. Bagaimana catatan-catatan tentang itu lebih banyak menjadi konsumsi ilmiah dibandingkan sebagai rujukan teknis bagi para orang tua untuk mencoba membangun pola asuh yang baik bagi anak-anaknya.

Apa itu pola asuh? Pola asuh pada prinsipnya adalah sebuah pola pembelajaran dan pendidikan sehari-hari yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya, yang bia membentuk karakter dan kepribadian anak ke depan. Model karakter dan kepribadian seperti apa yang tertanam pada anak adalah hasil dari pola asuh orang tua dan lingkungan terdekatnya. Apa yang terjadi sehari-hari dalam sebuah keluarga, akan menjadi sumber pembelajaran pertama dan utama bagi seorang anak dalam banyak hal, seperti perangai, kepribadian, karakter, kemampuan fisik dan emosional serta kemampuan dalam hal bersosialisasi. Proses pembelajaran yang berasal dari perilaku orang tua dalam kehidupannya sehari-hari, baik sengaja maupun tidak, akan secara otomatis terjadi pada anak dalam sebuah rumah tangga.

Peran Penting Orang Tua

Untuk itu, sangatlah bermanfaat bagi perkembangan seorang anak, ketika sebuah keluarga, khususnya orang tua, memiliki pemahaman ini dan mengetahui secara garis besar mengenai apa-apa saja yang memang secara alamiah terjadi pada seorang anak dalam setiap fase perkembangannya. Sehingga orang tua dapat menyikapinya dengan perilaku dan mengerti pola asuh seperti apa yang mereka anggap ideal bagi anak-anaknya.

Belum lagi misalnya pemahaman orang tua pada perilaku anak-anaknya yang telah memasuki masa remaja, di mana lingkungan di luar keluarga sangat mendominasi perkembangan karakter dan mempengaruhi perilaku anak tersebut. Gambaran umum seorang remaja yang pada fase tersebut memang cenderung untuk mencari nilai-nilai baru di luar lingkungan keluarga dan membanding-bandingkannya dengan nilai-nilai yang selama ini dia terima dalam keluarga. Kemudian bagaimana seorang remaja memiliki kecenderungan memberontak pada nilai-nilai keluarga dan lebih cenderung untuk mengambil nilai-nilai lingkungan di luar keluarga sebagai pegangan dalam berperilaku, ini juga harus dipahami dengan baik oleh para orang tua agar tidak salah memahami dan menyikapi apa yang terjadi pada anak-anaknya yang berada pada fase remaja tersebut.

Masih sangat relevan sebetulnya istilah “buah tidak jatuh jauh dari pohonnya” dan sebetulnya itu bukan hanya sebagai sebuah definisi dari persoalan genetikal dan fisik, namun juga hasil dari pemahaman seorang anak atas perilaku orang tua dan pola asuh yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak-anaknya. Karena pada prinsipnya, seorang anak akan selalu belajar dari lingkungan terdekatnya, yaitu orang tua atau keluarga. Mereka menyerap informasi dengan baik dari kelima indra mereka dan membuat definisi serta mengintepretasikan informasi menjadi nilai-nilai yang pada gilirannya mereka simpan sebagai sebuah acuan berperilaku. Bukan hanya perkataan orang tua tapi sikap serta perilaku orang tua yang akan mereka serap, bahkan kebanyakan tidak disadari oleh para orang tua.

 Periodesasi Perkembangan Anak

Setiap orang akan mengalami periodisasi dalam perkembangannya, begitu juga sebaliknya perkembangan masa anakanak akan mengalami periodisasi dari mulai lahir, bicara dan mulai merangkak. Menurut Munorang tuar (1985), ditinjau dari sudut psikologi anak dibagi antara lain:

  1. Masa bayi, yaitu sejak lahir sampai akhir tahun kedua.
  2. Masa anak awal atau masa kanak-kanak, yaitu permulaan tahun ketiga sampai usia 6 tahun. Masa ini disebut pula masa anak prasekolah.
  3. Masa anak lanjut atau masa anak sekolah, yaitu dari usia 6-12 tahun atau 13 tahun, masa ini disebut pula masa anak usia sekolah dasar pada usia ini biasanya anak duduk di sekolah dasar.
  4. Masa remaja, yaitu dari usia 13-18 tahun.

Hurlock (1990), membagi periodisasi masa anak menjadi dua, yaitu: early childhood pada usia 2-6 tahun dan late childhood pada usia 6 -12 tahun, sedangkan usia 0-1 tahun merupakan masa bayi, dimana pada masing-masing periode mempunyai ciri-ciri yang dapat membedakan pengertian anak dengan orang dewasa. Lebih lanjut lagi Havighust (dalam Kasiram, 1994), membagi masa anak menjadi dua juga, yaitu : 1-6 tahun sebagai masa kanak-kanak (infancy dan early childhood), dan usia 6-12 tahun yang merupakan masa sekolah atau periode intelektual (middle childhood).

Secara kronologis (menurut urutan waktu), masa kanak-kanak (early childhood) adalah masa perkembangan dari usia 1 atau 2 tahun hingga 5 atau 6 tahun. Perkembangan biologis pada masa-masa ini berjalan pesat, tetapi secara sosiologis ia masih sangat terikat oleh lingkungan dan keluarganya. Oleh karena itu , fungsionalisasi lingkungan keluarga pada fase ini penting sekali untuk mempersiapkan anak terjun ke dalam lingkungan yang lebih luas terutama lingkungan sekolah.

Salah satu dasar untuk menentukan apakah seorang anak telah mengalami perkembangan dengan baik adalah memulai apa yang disebut dengan tugas-tugas perkembangan atau Development Task. Tugas perkembangan masa anak menurut Munorang tuar (1985) adalah belajar berjalan, belajar mengambil makanan yang padat, belajar berbicara, toilet training, belajar membedakan jenis kelamin dan dapat kerja kooperatif, belajar mencapai stabilitas fisiologis, pembentukan konsep-konsep yang sederhana mengenai kenyataan sosial dan fisik, belajar untuk mengembangkan diri sendiri secara emosional dengan orang tua, sanak saudara dan orang lain serta belajar membedakan baik dan buruk.

Untuk bagian selanjutnya, akan ditulis mengenai urutan periodesasi perkembangan anak, tugas perkembangannya serta perilaku anak yang kerap muncul di dalamnya, agar kita bisa paham apa yang wajar dan apa yang anomali terkait dengan perilaku anak dalam periodesasi tugas perkembangannya.

Bersambung

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook15Share on Google+1Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0
One Response
  1. Clodia Store 7 months ago