Sekilas Catatan Relawan ASAP

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook42Share on Google+0Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0

Senin, 2 November 2015 terasa begitu menyenangkan. Karena hari ini adalah hari dimana saya akan menjemput kawan-kawan dari Jakarta dan Makassar di Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin. Kedatangan mereka bukan untuk plesiran atau mengunjungi tempat-tempat wisata di bumi Kalimantan. Namun kedatangan kawan-kawan, yang terdiri dari Dokter dan pekerja medis, dari Yayasan Daarul Quran untuk membantu warga Kalimantan yang menjadi korban asap selama empat bulan terakhir.

Kabut Asap akibat pembakaran hutan

Dalam empat bulan terakhir headline media baik cetak, elektronik dan online menceritakan parahnya bencana asap yang diakibatkan oleh pembakaran hutan yang dilakukan oleh korporasi besar. Ratusan ribu warga yang berada di pulau Sumatera dan Kalimantan menjadi korban dari racun yang ada dalam asap yang setiap harinya dihirup mereka. Korban jiwa pun berjatuhan. Sedinya banyak korban yang terpapar adalah bayi dan para ibu yang sedang mengandung.

Selain menyebabkan gangguan kesehetan bencana asap ini juga menimbulkan masalah dari sisi ekonomi. Banyak penerbangan dibatalkan jadwalnya, distribusi barang yang terganggu dan banyaknya pusat perbelanjaan yang ditutup.

Begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar yang terganggu akibat banyak sekolah yang terpaksa meliburkan muridnya untuk belajar dirumah saja demi menghindarkan mereka mengalami gangguan pernapasan. . Paparan asap juga menyulitkan aktivitas para pekerja setiap harinya untuk berangkat ketempat kerja masing-masing, sehingga pemerintah/swasta meliburkannya dikarenakan Asap tebal yang sudah memasuki tingkatan berbahaya untuk pernafasan.

20151119193019

Siapa Mereka?

Memang setiap tahunnya paparan asap terjadi di Indonesia terutama di musim kemarau. Namun, bencana kali ini adalah yang terparah. Bahkan efeknya tidak hanya di Indonesia. Negara tetangga seperti Malaysia, Singapura bahkan Thailand pun harus merasakan asap akibat pembakaran lahan di Indonesia.
Meski ratusan ribu masyarakat sudah jadi korban namun pemerintah dianggap lambat dalam memberikan respon. Melihat hal ini sejumlah elemen masyarakat pun turun tangan untuk membantu saudara-saudara mereka yang menjadi korban asap. Salah satunya adalah Yayasan Daarul Qur’an yang mengirimkan sejumlah relawan medis ke sejumlah lokasi di Pulau Sumatera dan Kalimantan.

Persinggahan pertama

Sebelum berangkat menuju lokasi aksi saya dan rombongan menyiapkan segala sesuatunya dari mulai obat-obatan yang diperlukan hingga perlengkapan lainnya. Disini kami menetap sementara di rumah seorang Polisi di Banjarmasin. Di rumah ini pula kami menitipkan obat-obatan yang akan kami bawa menuju lokasi pembakaran hutan terparah di Kalimantan yakni kota Palangkaraya yang berada di Provinsi Kalimantan Tengah.

Kami mendapat jamuan yang baik dari tuan rumah. Kami mempersiapkan semua kebutuhan Aksi, obat-obatan, perlengkapan medis, kendaraan-kendaraan siap tempur yang akan menuju medan yang belum ketahuan seperti apakah nanti perjalanannya. Dipimpin Ketua Team kami rapat, melakukan pemetaan sementara, dan dilanjutkan berdoa bersama. Akhirnya kami Siap berangkat!

20151119193051

Menikmati perjalanan yang menyenangkan dan terselip kesedihan

Kalimantan sungguh sebuah pulau dengan daratan yang sangat luas, dengan hamparan semak belukar yang luas dan hijau dikiri kanan jalan, pepohonan dan hutan-hutan kecil yang seolah menyapa menyambut kedatangan kami, sungguh indah meski kesenangan melihat keindahan alam jadi ternodai karena mata kami tertuju pada lahan-lahan kosong yang tanahnya menghitam karena belukar gosong, bagaikan pepohonan arang yang tumbuh tanpa dedaunan. Itulah hasil dari pembakaran hutan yang dilakukan orang-orang tidak bertanggung jawab. Terkadang masih kami dapati lahan – lahan gosong dengan titik-titik api yang masih menyala, sangat menyedihkan itulah mengapa kusebut perjalanan ini menyenangkan tetapi terselip kesedihan yang mendalam.

Palangkaraya

Nah, kami tiba di Palangkaraya, kota yg cukup luas namun masih terasa kental unsur kedaerahannya, kami mendatangi rumah singgah yang kedua, dihuni seorang sahabat kami yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil, beliau dengan suka cita menyambut kami, cukup banyak kami mendapatkan berbagai informasi darinya. Seperti info akan disambutnya kami oleh pemerintah daerah setempat, yang serta merta ditolak dengan halus oleh ketua team kami, awalnya sempat terpikir oleh ku kenapa? Bukankah dimana kaki dipijak disitu langit dijunjung dalam istilah dimana kita berada maka kita harus menghargai adat istiadat daerah setempat atau setidaknya menghargai sang pemilik daerah.

Namun pertanyaan dalam hati ku terjawab, tanpa harus ada pula yang menjawab, situasi disini sedang dalam kondisi persiapan pilkada, banyak hal-hal yang pada saat sekarang ini sangat mudah dijadikan alasan untuk berkampanye dengan cara apapun dan dimanapun, sementara kami bukanlah bagian dari itu, kami hanyalah sekelompok musafir yang sedang melakuan perjalanan panjang bertujuan melayani umat dikarenakan dampak dari kabut Asap. Apalagi kami dianguerahi seorang pemimpin yang sederhana yang mempunyai perilaku agak sulit menerima banyak kemudahan tanpa perjuangan. Akhirnya adalagi satu pelajaran yang kudapat dari peristiwa ini, tanpa mengurangi rasa hormat, beliau menolak dengan halus dan memang kami tidak punya cukup waktu juga untuk berlama-lama dikota, sudah tak sabar rasanya kami bertemu jodoh – jodoh kami yaitu orang-orang yang membutuhkan bantuan kami. Sebelum kami berangkat menuju Sampit, kami sempatkan menemui salah satu LSM setempat, yaitu Gerakan Anti Asap (GAAS). Di sekretariat GAAS kami kembali dapat banyak informasi tentang sebaran asap yang terjadi dan jumlah korban. Salah satu orang anggota GAAS akhirnya resmi bergabung dengan kami sebagai navigator sekaligus Guide kami menuju tempat-tempat yang penduduknya benar-benar membutuhkan pelayanan kami.

20151119193003

Aksi Solusi Atasi Polusi

Kalimantan dengan hamparan hutan yang luas, entahlah tinggal berapa persen lagi hutan yang sebenar-benarnya, karena hampir sepanjang perjalanan kami, daratan yang terlihat didominasi oleh perkebunan kelapa sawit.

Kami memasuki perkebunan kelapa sawit dan menemui penduduk setempat, mulailah kami menggelar Posko Pengobatan Gratis, kami mulai bekerja bahu membahu melayani masyarakat, kebanyakan dari mereka adala ibu-ibu dan anak anak, sempat terdengar beberapa penduduk bertanya dengan lugunya, “ini relawan asap darimana bu? Bukankah sudah tak ada asap?”

Dengan sabar siapapun anggota tim menjawabnya dengan jelas dan lembut, bahwa meskipun Asapnya sudah menghilang, dampak dari asap yangg terhirup lah yang akan kami tangani, beberapa penduduk mengangguk-angguk tanda setuju, bisa jadi beliau sendiri merasakan dan baru menyadari dampak dari kabut asap tersebut adalah kesehatan mereka yang menjadi korbannya, itu terbukti dengan catatan paramedis yang mengatakan bahwa kebanyakan para penduduk menderita penyakit Ispa, batuk batuk, influenza, dan juga penyakit gatal-gatal.

Selian bencana asap musim kemarau juga menyebabkan kiris air bersih sehingga mereka mendapatkan Air dengan tidak mudah, mengambil air dengan jarak yang cukup jauh, sementara diperkebunan mereka bekerja bersentuhan dengan hal-hal kotor, kami sempat dapat informasi yang sedikit extreme, entah benar atau tidaknya bahwa untuk menjaga agar perkebunan sawit aman dari hama tikus, maka pemilik kebun menyebarkan ratusan ular cobra diperkebunan, agar hama tikus habis menjadi makanan ular cobra, hmm… sempat terpikir lagi olehku, semoga saja para pekerja dibekali peralatan lengkap dan memakai sepatu boot dengan standar profesional, mengapa? Karena buatku kok agak kurang adil ya, jika mereka mencoba menyelesaikan satu masalah tanpa memikirkan keselamatan jiwa para pekerja, tapi semoga saja itu tidak terjadi disetiap perkebunan kelapa sawit yang kami datangi ini.

“Keikhlasan tanpa suara”

Perjalanan panjang kami terus berlanjut, dan seringkali kami mendapati jalan yang sulit dilewati, misal jalan berdebu tebal sampai jarak pandang beberapa meter saja, jalanan tanpa penerang jalan dan rambu lalu lintas, kanan kiri hutan belantara, belum beraspal dan berkerikil tajam, bahkan melewati jalan yg bergelombang dengan jarak 2 sampai 3 km, jika kami melewati jalan itu kami bagaikan sedang mengikuti lomba Off-road saja, tentu saja capek sekali karena berjam- jam terombang-ambing didalam mobil, namun entah mengapa selalu saja yang terlihat adalah senyum-senyum manis yang terlihat di wajah para relawan asap ini, bayangkan saja, mereka bekerja bahkan bisa sampai larut malam, dan istirahat dimana saja asalkan bisa untuk meluruskan kaki, dirumah penduduk, dimobil, dibale-bale warung pinggir jalan, di pelataran mesjid, mereka menimakti keadaan ini dengan sukacita, seolah keletihan fisik mereka sirna oleh kenikmatan petualangan ini.

Lagi-lagi terngiang ditelinga batinku kata-kata pak ketua team disetiap memimpin doa untuk memulai Aksi, “ikhlas yang tak diucapkan”, nah.. inikah yang dimaksud dengan keikhlasan tanpa suara, yang terlihat adalah ketenangan dan senyum-senyum indah mereka. Masya Allah aku bergetar dan dengan bangga batinku berkata Allhamdulilah aku bertemu dan berkenalan dengan mereka.

Menebar cinta dari desa ke desa

Diawali dengan pemetaan, Pak Ketua Team kami dibantu bapak pemilik rumah singgah diPangkalan Bun, selain merelakan rumah beliau menjadi rumah singgah kami, kami dijamu dengan baik oleh keluarga beliau, sungguh beruntung Team relawan asap ini bertemu dengan orang-orang baik sepanjang perjalanan ini, Beliau juga memberikan cukup banyak rujukan desa-desa yang akan kami jadikan target operasi kami. Desa Kumpai Batu Bawah, Desa Sebai, Desa Kumai, Desa Kinjil, dll, kami juga sempat mengunjungi Astana Al Nursari yaitu sebuah istana peninggalan salah satu sultan yang ada di Kota Waringin Lama-Kalimantan tengah, kami disambut dengan baik oleh keturunan sultan tersebut, yaitu Gusti Samudera, bahkan beliau juga memberikan rujukan beberapa desa yang akan kami singgahi, perkampungan Dayak Desa sakabuli , Dayak Kahayan, yang juga menarik, beliau ikut bergabung dalam perjalanan kami.

Senyuman mereka kepuasan hati

Jangankan ucapan terimakasih, melihat senyuman bahagia para pasien cilik ini saja kami sudah senang, setiap anak-anak yang kami periksa dan obati, dibeberapa sekolah dasar dan madrasah, meski kadang kami kerepotan menghadapi serbuan mereka yang luar biasa, menyeruak menuju posko pengobatan, wajah-wajah polos mereka dan suara lembut mereka menyebutkan satu persatu keluhannya.

Tawa lebar seorang Nenek Dayak yang merasa senang mendapatkan Nomor antrian pertama.

Tawa canda para calon pasien yang sedang makan bubur kacang hijau sajian Team kami, sambil menunggu nomor antriannya dipanggil.

Omelan ibu-ibu yang merasa antrian panjang dan alot, sementara mereka sudah menunggu lama.

Melihat mereka berbondong bondong datang ke posko, meski waktu sudah mulai beranjak malam, dan kelihatannya mereka tak kan habis-habisnya datang jika kami dengan keterbatasan tenaga kami, tidak berani menolak kedatangan mereka meski kami sudah tutup poskonya. Artinya betapa moment seperti ini sangat dibutuhkan oleh mereka. Semoga mereka memaafkan keterbatasan kami.

Tawa Canda Pelepas Lelah

Ada hal menarik lainnya yang aku tercatat dalam ingatanku, yaitu cara pak ketua team memecah kepenatan semua anggota dikala dalam perjalanan panjang, dengan bernyanyi dibantu dengan Handy Talky, sehingga memecah kepenatan setiap anggota team, terdengar ke dalam kendaraan masing-masing, agar para pengendara-pengendara handal kami tidak mengantuk dijalanan dan kami masih bisa tertawa dibalik keletihan fisik yang selalu saja akhirnya membias tak berbekas.

Hal menarik lainnya, disaat kami tegang bukan karena keletihan, disaaat kami membuka posko di pedalaman Dayak, banyak hewan kontroversial (babi) berkeliaran bebas disana, ya bisa dimaklumi karena kami berada diperkampungan dayak yang sebagian besar penduduknya penganut Animisme, dan penganut Nasrani jika sudah beragama, dan babi adalah salah satu makanan favorit mereka, seperti yang kita tahu umat muslim tidak makan babi, bahkan bersentuhan dengan babi, tapi Allhamdulilah kami tetap semangat membantu saudara-saudara kita diperkampungan dayak tersebut, kala itu semua sedang sibuk, para dokter, apoteker, dan rekan lainnya, meski agak sedikit tegang, karena babi-babi itu berkeliaran kesana kemari, tiba-tiba sikap iseng Pak Ketua Team kami lagi-lagi memecah ketegangan kami dengan diam-diam mengendap dan menyentuh kaki siapapun anggota yang sedang terdiam atau termenung, sehingga sang korban iseng tersebut, berteriak atau terkaget-kaget dibuatnya. Karena terpikir jangan-jangan siMungil itu yang menyentuhnya hahaha..

Rasa Syukur menuntaskan Misi

Sudah 8 hari kami berkeliling Kalimantan tengah dan sekitarnya, kami harus pulang kembali pada aktifitas masing-masing, meski terasa belum cukup rasanya kami memberikan daya dan upaya kami untuk mereka, namun keterbatasan waktu dan hal lainnya membuat kami harus berpisah. Dengan rasa syukur meski baru sedikit yang bisa kami berikan, semoga itu menjadi manfaat untuk kita semua, perjalanan ini adalah pengalaman terbaik, semoga menjadi contoh untuk generasi yang akan datang dan menginspirasi umat-umat lainnya untuk selalu berbagi pada sesama.

Satu persatu kawan-kawan pulang, semoga silaturahmi akan terus berselang, dan berbagi kebaikan akan selalu terulang.

Dituliskan oleh Ika Permatasari

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook42Share on Google+0Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *