Pro Kontra Pasal Kretek Dalam RUU Kebudayaan

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook11Share on Google+1Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0

Komisi Nasional Pengendalian Tembakau menolak dengan keras masuknya pasal kretek dalam Rancangan Undang-Undang Kebudayaan. Sebagaimana dikutip dari harian Tempo, Selasa (22/9).

Kartono Mohamad, penasihat Komisi Nasional Pengendalian Tembakau mempertanyakan masuknya pasal kretek dalam RUU ini.

“Mengapa mesti kretek? Kenapa pula kretek disebut sebagai salah satu warisan budaya?”

Dalam draft RUU tersebut soal kretek masuk ke Pasal 37 huruf I sebagai salai satu warisan budaya Indonesia. Penjelasan pasal ini ada dalam pasal 49. Dimana pasal itu meminta pemerintah untuk membuat inventarisasi dan dokumentasi; fasilitasi pengembangan kretek tradisional; sosialisasi; publikasi, dan promo kretek tradisional; festival kretek tradisional; serta perlindungan kretek tradisional.

Kartono menilai dengan kewajiban ini maka pemerintah justru akan mempromosikan hal yang membahayakan publik.

“Ini sama saja menyuruh anak-anak merokok” ujarnya.

Hal senada diungkapkan oleh Emil Salim yang mengatakan kretek bukanlah warisan budaya Indonesia yang perlu dilindungi oleh undang-undang.

“Kretek itu rokok. Rokok adalah racun, kok bisa-bisanya dimasukkan ke kebudayaan kita. What is going on?” ujar Emil Salim dikutip dari Antara, Rabu (30/9).

Emil Salim juga mengatakan pasal kretek ini justru akan merugikan petani tembakau di Indonesia. Sebab, tembakau yang digunakan dalam produksi pembuatan rokok di Indonesia adalah tembakau impor.

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook11Share on Google+1Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *