Pilkada Tanpa Gairah

Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB, tersisa satu jam lagi jelang ditutupnya Tempat Pemungutan Suara (TPS) 57 di Beji, Depok, Jawa Barat. Namun baru 30 persen pemilih yang menggunakan hak suaranya. Menggunakan pengeras suara seorang petugas KPPS mencoba mengumumkan kepada warga yang ingin memilih.

Rabu, 9 Desember 2015, Indonesia menyelenggarakan pemilihan serentak yang pertama kali secara nasional. Sebanyak 269 daerah akan melakukan pemilihan kepala daerah dengan rincian 9 pemilihan gubernur, 30 pemilihan walikota dan 224 pemilihan bupati.

Sejumlah persoalan seperti adanya nama pemilih ganda, permasalahan administratif calon pasangan masih menjadi isu dalam pilkada serentak kali ini. Namun rendahnya jumlah pemilih menjadi perhatian besar banyak media.

Dikutip dari BBC Indonesia, Rustika Herlambang peneliti dari Indonesian Indicator mengatakan sebanyak 358 media yang meliput pilkada serentak ini mengangkat rendahnya partisipasi pemilih sebanyak berita yang banyak diberitakan.

Meski belum ada jumlah pemilih pasti dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) namun pemilih di 2015 ini menurun jika dibandingkan dengan pemilih pada tahun 2014.

“Jadi kalau dalam temuan-temuan media, dikatakan partisipasi pemilih itu rendah, KPU juga mengatakan partisipasinya menurun, menurut lembaga-lembaga survei juga begitu, menurun dari Pemilu 2014 lalu,” ujar rustika.

Kota Medan tercatat menjad satu kota dengan tingkat pemilih yang rendah. Hanya 24,02 persen pemilih yang menggunakan hak suaranya. Yang berarti ada 75 persen yang tidak menggunakan hak pilihnya.

“Kita harus akui, partisipasi masyarakat dalam pilkada kali ini sangat rendah. Infromasi dari desk pilkada bahwa persentase masyarakat yang memilih hanya 24,02 persen,“ ujar Pj Wali Kota Medan, Randiman Tarigan, dikutip dari jpnn.com.

Banyak pemilih mengatakan tidak menggunakan hak pilihnya karena skeptis dengan pilkada yang tidak menghasilkan pemimpin yang mereka harapkan.

“Saya merasa skeptis dengan calon pemimpin kota Medan untuk lima tahun mendatang. Banyak pemimpin di Indonesia yang telah menyalahgunakan wewenangnya dan terlibat korupsi” ujar Monang Sitorus, warga Medan sebagaimana dikutip dari BBC Indonesia.

Namun, skeptis terhadap pilkada tidak menjadi satu-satunya penyebab turunnya jumlah pemilih dalam pilkada kali ini. Dodi Ambardi, Direktur Lembaga Survei, mengatakan perubahan mode kampanye yang kini dikelola oleh KPU, menjadikan gema pilkada kali ini agak rendah.

Aturan yang baru membuat partai peserta tidak bisa memasang baliho, poster dan lain sebagainya secara bebas. Kini sejumlah kegiatan kampanye diatur dan dikelola oleh KPU.

Temukan Saya

Arista Budiyono

Tukang Nulis dan Nonton at Infosuporter
Saat ini sepakbola Indonesia hanyalah permainan dan sedau gurau belaka
Temukan Saya

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

'