Petahana & Pilkada Dua Putaran

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0

Oleh: Khalidah Nizma Fritz

Bagaimana jika petahana maju lagi? Petahana sudah punya modal memimpin dan dikenal rakyatnya. Mereka memiliki modal besar untuk terpilih kembali dan dianggap sudah tahu permasalahan masyarakat yang dipimpinnya.

Seperti Walikota Surabaya, Tri Risma Harini, yang menjabat selama dua periode. Di awal kemunculannya tahun 2010, Risma menjadi walikota dengan meraih 38,53% suara. Selama menjabat sebagai walikota Surabaya, kinerja Risma amat baik. Prestasinya sampai ke kancah internasional. Rakyat Surabaya mencintainya. Tidak heran ketika Risma maju ke pilkada berikutnya, sempat tak ada penantangnya. Tidak ada calon walikota yang berani bersaing dengannya. Gagagan-gagasan Risma dalam membangun Surabaya, caranya mengeksekusi program kerja, sampai kepribadiannya, disenangi rakyat Surabaya. Akhirnya di tahun 2015, Risma, sang petahana menang telak dengan mengantongi suara 86,34%.

Petahana yang menjabat kembali, adalah hal yang biasa dijumpai dalam masyarakat Indonesia. Dalam Pilkada tahun 2015, sebanyak lebih dari 82% calon yang maju adalah petahana. Dari jumlah itu 36,8% petahana kalah. Angka kekalahan petahana cukup tinggi. Bisa jadi ini adalah bentuk kedewasaan masyarakat dalam berdemokrasi.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan petahana kalah. Pertama, tingkat ketidaksukaan masyarakat terhadap kinerja dan atau karakter pemimpinnya. Misalnya selama menjabat berjarak dengan masyarakat, perangainya kasar, dan sebagainya. Kedua, tidak ada perubahan selama masa kepemimpinan petahana. Program dan janji kerja banyak diabaikan. Ketiga, kesejahteraan rakyat tidak mengalami perubahan, terutama masyarakat miskin. Ada satu faktor lain yang menjadi penentu langkah petahana selanjutnya, yaitu lawan yang menjanjikan.

Pilkada Jakarta

Bagaimana dengan pilkada Jakarta 2017? Gubernur petahana, Basuki, tidak langsung menang pada pilkada 15 Februari. Basuki-Djarot melaju ke putaran kedua bersama pasangan Anies-Sandi, setelah pasangan lain, Agus-Sylvi kalah. Mengapa petahana tidak langsung menang? Ini mengingatkan kita pada pilkada Jakarta sebelumnya, di mana pasangan Foke-Nara sebagai petahana, kalah di putaran kedua oleh Jokowi-Basuki.

Tahun 2016, sebelum memasuki masa kampanye, Basuki membuat geger masyarakat dengan membawa-bawa ayat Al-Qur’an dalam pembicaraannya. Masyarakat tersinggung, kasus ini berbuntut panjang. Namun, apakah kasus ini merupakan pencekal petahana dalam pilkada? Ternyata bukan. Sebagian besar masyarakat Jakarta menginginkan perubahan. Selama menjabat, Gubernur Basuki memang membangun dan memperbaiki. Sayangnya kemajuan ini kebanyakan terasa di kalangan masyarakat menengah ke atas. Sebaliknya, persoalan masyarakat miskin tidak berkurang, justru bertambah. Kesejahteraan tidak bergerak naik. Mereka masih berteriak mengeluhkan biaya hidup yang mahal, pendidikan yang tidak tuntas dan sulitnya mendapat pekerjaan.

Selama menjadi Gubernur, Basuki justru menambah masalah mereka. Di era kepemimpinannya, Basuki menorehkan rekor penggusuran terbanyak dan tercepat. LBH Jakarta menyebutkan setidaknya ada 113 titik penggusuran, 80%nya dilakukan dengan paksa. Belum lagi persoalan masyarakat di Pantai Utara Jakarta, menderita karena reklamasi. Selain kepemimpinan yang tidak berpihak pada masyarakat miskin, Basuki punya masalah lain. Karakternya tidak disukai masyarakat. Bicaranya yang kasar dan penuh makian, membuat masyarakat hilang simpati. Dua permasalahan utama ini membuat masyarakat Jakarta berpikir ulang untuk memilihnya kembali jadi Gubernur.

Lawan Menjanjikan

Gegap gempita pilkada Jakarta semakin seru, ketika penantangnya menjanjikan suatu kebaruan. Anies-Sandi jadi pilihan alternatif masyarakat Jakarta yang menginginkan pergantian gubernur. Anies Baswedan, bukan orang baru di dunia perpolitikan dan gerakan. Sebelumnya Anies pernah menjabat sebagai juru bicara capres, ketua Komite Etik KPK, hingga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Saat menjadi menteri, Anies teruji kualitasnya. Rencana kerjanya terlaksana, rapornya bagus, dan karakternya disukai banyak orang. Sedangkan calon wakilnya, Sandiaga Uno merupakan pengusaha muda yang namanya sudah tidak asing lagi di Jakarta. Puluhan ribu pengusaha berhasil dibina olehnya.

Keduanya saling melengkapi. Solusi permasalahan utama Jakarta, ada pada Anies-Sandi. Anies bisa menjawab permasalahan Jakarta di bidang pendidikan dan sumber daya manusia. Sedangkan Sandi, piawai soal menekan biaya hidup dan menciptakan lapangan kerja. Permasalahan ini amat krusial bagi masyarakat menengah ke bawah. Selain itu, keduanya punya karakter yang lebih disukai masyarakat, tegas sekaligus santun.

Pengalaman dan karakter Anies-Sandi membuat masyarakat Jakarta jatuh hati. Sekarang ada pemimpin alternatif yang menjanjikan. Buktinya, petahana tidak langsung menang. Bukan tidak mungkin, kejadian di pilkada tahun 2012 terulang, petahana kalah dan penantang baru yang menang.⁠⁠⁠⁠

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*