Pemerintah Pilih Balon Google Ketimbang OpenBTS

“CELANA PENDEK. Penghinaan kpd bangsa Indonesia itu bukan ketika Sergey Brin, pendiri Google, memakai celana pendek di depan para CEO telekomunikasi Indonesia. Penghinaan itu ketika pemerintah memberi Google konsesi Project Loon, balon udara utk membawa akses internet ke daerah terpencil; sementara bertahun-tahun menolak mendukung inisiatif OpenBTS, cara murah memberikan akses internet, yg diajukan pegiat internet negeri sendiri. Jadi siapa sebenarnya yg menghina bangsa Indonesia?”

Tulis jurnalis senior Farid Gaban dalam laman Facebooknya. Sontak status ini mengalirkan sebuah diskusi tentang perkembangan internet di Indonesia.

Status mas Farid merespon kesiapan tiga operator seluler Indonesia (Indosa, Telkomsel dan XL) untuk bekerjasama dengan Google dalam menghubungkan daerah-daerah terdalam yang belum terjangkau jaringan internet.

Project Loon dikembangkan Google untuk mendistribusikan jaringan internet hingga ke daerah-daerah yang dikarenakan masalah geografis menyulitkan pembangunan infrastruktur seperti hutan yang sulit ditembus, gunung dan pulau-pulau dipisahkan oleh lautan.

Projet Loon ini menggunakan balon udara yang dilengkapi peralatan elektronik dan diterbangkan hingga ke lapisan stratosfer dengan ketinggian 20 km atau dua kalo ketinggian terbang sebuat pesawat. Dari udara balon-balon tersebut akan tersambung ke menara internet service provider (ISP) di darat.

Google menyatakan setiap balon bisa memberikan koneksi internet nirkabel pada area dengan diameter 40 km. Balon-balon ini menggunakan panel surya sebagai sumber dayanya. Balon Google ini sudah diujicoba pada Juni 2013 di Selandia Baru.

Kecewa

Keputusan pemerintah menggandeng Google untuk menghubungkan daerah-daerah pedalaman dengan koneksi internet mengundang rasa kecewa dari Pegiat open source Onno W Purbo.

Dikutip dari kompas.com, dengan kebijakan ini Onno menganggap pemerintah tidak peduli dengan proyek sejenis yang dihasilkan oleh anak bangsa Indonesia sendiri.

Onno diketahui telah mengenalkan Open Base Transceiver Station (OpenBTS) sejak lama kepada pemerintah. Bahkan teknologi ini sudah didemokan ke Kementerian Komunikasi dan Informatika. Namun, hingga sekarang belum mendapat tanggapan.

“Ya dicuekin. Mungkin karena ini rakyat biasa yang mengajukan, bukan corporate besar seperti Google. Yang penting ya niat. Niatnya (pemerintah) mau pro-rakyat atau enggak. Sudah, itu saja,” pungkas Onno

Menurut Onno proyek OpenBTS lebih murah ketimbang BTS konvensional yang biasa digunakan oleh para operator. Bila satu BTS operator butuh biaya Rp 1,5 miliar maka OpenBTS hanya butuh modal sekitar Rp 120 juta untuk jangkauan lima kilometer.

“Sudah dicoba lebih dari dua tahun di Papua. Bisa kita buat sendiri dengan harga yang lebih murah dan mudah” ujarnya.

Sebagai bentuk kesungguhannya Onno bahkan telah menerbitkan buku tentang OpenBTS serta mendorong perguruan tinggi memiliki laboratorium OpenBTS untuk praktikum mahasiswa.

Sementara itu Praktisi keamanan internet Donny B.U. menilai pemerintah tidak adil saat memilih Project Loon dari Google. Karena dengan begitu proyek ini bisa menggunakan frekuensi 900 MHz yang sebelumnya tidak boleh digunakan oleh proyek OpenBTS.

Syakib

Syakib

Suka nulis dan suka baca tapi gak suka ngedit jadi suka typo dan gak sesuai EYD tulisannya...
Syakib

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

'