Pandji Pragiwaksono: KJP Plus Anies–Sandi sangat penting dan relevan bagi Jakarta

Selama ini jika kita berbicara tentang pendidikan di Jakarta, seolah-olah kita membicarakan tentang sebuah kota yang capaiannya luar biasa. Penuh keangkuhan dan memandang rendah kondisi pendidikan daerah lain.
Kenyataannya, 3 hingga 4 dari 10 anak usia sekolah menengah atas di Jakarta tidak berada di bangku sekolah. Bahkan di Kepulauan Seribu, kondisinya lebih memprihatinkan. Hanya 3 dari 10 anak usia sekolah menengah atas yang berada di bangku sekolah. Kondisi ini lebih buruk dari Nabire, Merauke dan Timika di Papua. Dengan lokasi yang dekat dengan pusat perekonomian nasional serta rimba gedung-gedung pencakar langit, kondisi tersebut jelas memprihatinkan. Tak banyak yang tahu, itulah kondisi Jakarta kita. Tempat tinggal kita.

Anak-anak yang berada di luar sekolah ini mungkin kita lewati setiap hari ketika berangkat kerja, ke kampus atau ke mal. Wajahnya mungkin terlihat tua karena debu jalanan dan terik matahari, namun mereka adalah anak usia sekolah yang punya hak memperoleh pendidikan sama validnya dengan anak-anak lain seusia mereka. Sebagian dari mereka mungkin anak putus sekolah, sebagian besar lagi justru adalah anak yang tidak pernah sekolah sama sekali.

“Mereka inilah yang selama ini hilang dari diskusi-diskusi pendidikan di Jakarta,” kata Pandji Pragiwaksono, Juru Bicara Pasangan Calon Gubernur – Wakil Gubernur Aniesa Baswedan – Sandiaga Uno.

Menurut Pandji, Jakarta telah memiliki program Kartu Jakarta Pintar yang memberikan bantuan kepada siswa miskin, namun masih menyisakan permasalahan dengan bahwa program ini tidak mendorong dan memberi manfaat kepada anak-anak usia sekolah yang tidak ada di sekolah.

“Saat ini KJP hanya menyasar anak-anak yang telah berada di satuan pendidikan formal dan non formal serta tidak peka terhadap anak-anak usia sekolah yang putus sekolah. Secara tidak langsung, KJP justru mempertegas garis batas dan tentu saja masa depan anak-anak yang sekolah dan yang tidak bersekolah,” tegas Pandji.
Menurut Pandji lagi, KJP yg ada sekarang ini sangat parsial diterapkan. Yang sudah berada di bangku sekolah, diberikan bantuan beragam dan cenderung berlimpah. Situasinya, yang paling butuh diselamatkan karena putus sekolah misalnya, justru tidak dihiraukan dan dianggap sebagai residu pembangunan,” jelasnya dengan semangat saat dihubungi melalui telepon.
Kita bisa lebih baik dari ini

Terkait Pilkada DKI Jakarta, diantara ketiga calon baik yang maju bertanding, hanya pasangan Anies Sandi yang sejak awal menaruh perhatian pada kondisi pendidikan ini.
KJP Plus nanti tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak tidak mampu yang sudah ada di sekolah, namun juga diperuntukkan pada bagi semua anak usia 6 -21 tahun, baik sekolah dan di luar sekolah.

“Program KJP Plus Anies Sandi nanti tidak akan tebang pilih. Bagi anak yang tidak bersekolah dan kemudian menerima KJP Plus, maka ia bisa menggunakan kartu tersebut untuk masuk ke jenjang pendidikan yang sesuai,” jelas Pandji.

Sering kali muncul asumsi bahwa anak yang di luar sekolah memang tidak ingin sekolah. Padahal walaupun begitu, meninggalkan mereka sama saja merelakan mereka untuk tersisih dari kesempatan-kesempatan. Di satu sisi, anak-anak ini butuh nyali untuk kembali masuk ke pendidikan, dan kadang nyali itu perlu diperkuat dengan dorongan, dengan niat baik yang bentuknya bermacam-macam. Dari bentuk yang bermacam-macam itu, menurut Pandji, KJP Plus Anies-Sandu adalah salah satunya yg bisa mendorong mereka mau kembali ke dunia pendidikan.

“Jadi ingatlah bahwa 3 dari 10 anak saat ini ada di luar sekolah. Kita perlu malu dan kemudian bergerak. Anies Sandi sudah di depan sana menjulurkan tangan mengajak kita semua bergerak memperbaiki keadaan. Dukung!” Tegas Pandji.

Sumber Foto : kompas.com

Comments

comments

One Response
  1. fouine en anglais 2 months ago

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

'