Mourinho vs Wenger dan 10 Rivalitas Panas Antar Manajer

Arsene Wenger - Jose Mourinho
Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0

Rivalitas panas antara Jose Mourinho dengan Arsene Wenger bisa dibilang rivalitas terpanas antar manajer sepak bola.

Ada banyak pertikaian, ada banyak kebencian antara mereka. Begitu kerap perang kata-kata di luar lapangan, aksi saling dorong di lapangan dan juga bagaimana Mourinho mencuri Ashley Cole dari Wenger. Kedua klub yang mereka besut merupakan klub satu kota dan bersaing di level atas kompetisi sepak bola Inggris menjadi katalis tegangnya hubungan mereka.

Dalam banyak kesempatan bicara dengan media, Mourinho kerap menyerang manajer asal Perancis, begitu juga sebaliknya. Salah satunya, Mourinho pernah menyebut Wenger sebagai manajer spesialis gagal, manajer tukang intip. Sedangkan Wenger melabeli Mourinho sebagai orang tidak punya rasa hormat. Jika Mourinho menyinggung soal statistik keberhasilan Wenger meraih gelar, maka Wenger menyerang gaya permainan bertahan milik Jose.

Keduanya bertemu lagi kali ini, dan Mourinho sudah berjanji akan menjabat tangan Wenger sebelum kick-off. Keduanya tak berjabat tangan pada Community Shield, tak saling bertatap mata satu sama lain. Mou menepati ucapannya, keduanya berjabat tangan setelah Mou menunggu di ujung terowongan, tetap tanpa beradu mata. Dengan pertandingan yang berakhir dengan dua kartu merah dan kekalahan untuk Arsenal, Wenger lalu meradang. Rivalitas berlanjut dengan Mourinho kembali menyebut Wenger sebagai sang pengeluh.

Rivalitas keduanya sudah menjadi bagian dari rivalitas-rivalitas panas antar manajer sepak bola. Ada banyak perseteruan seru antar manajer yang merupakan hasil dari intensnya kompetisi dari tim-tim yang mereka tangani, dampak dari perbedaan filosofi dan gaya permainan yang mereka usung, serta juga perbedaan karakter antar manajernya. Dan berikut adalah 10 rivalitas panas lainnya.

1. Jose Mourinho vs Pep Guardiola

Jose Mourinho Pep Guardiola
Rivalitas Mou dan Guardiola adalah persaingan dua manajer tersukses di dunia. Guardiola mempunyai 19 gelar juara bersama Barcelona dan Bayern Munich, sedangkan Mourinho mengoleksi 22 gelar dari menangani Porto, Inter, Chelsea, dan Real Madrid. Keduanya juga pernah meraih treble. Persaingan keduanya juga adalah persaingan dua kutub gaya permainan yang bertolak belakang, Duo kompetitor dengan identitas kontras di berbagai aspek, dan semakin memanas dalam bungkus El Clasico Real Madrid vs Barcelona. Dua musim mereka beradu langsung dengan kendaraan Barcelona dan Real Madrid. Guardiola meraih empat gelar (1 La Liga, 1 Liga Champions, 1 Copa del Rey, 1 Piala Super Spanyol) sedangkan Mourinho merebut 1 La Liga dan 1 Copa del Rey.

Pertemuan langsung mereka di atas lapangan mungkin baru 16 kali, namun dinamika di luar lapangan berupa perang kata-kata di media membuat persaingan mereka muncul dalam banyak diskusi, dituliskan dalam banyak opini di berbagai media dan tentunya memancing komentar dari banyak sosok penting sepak bola dunia.

Tensi perseteruan memanas pada konferensi pers di Santiago Bernabeu (27 April 2011) jelang leg pertama semifinal Liga Champions, Guardiola yang biasanya kalem kehilangan kendalinya, melontarkan serangkaian kata yang menyerang Mourinho. Itulah titik didih hubungan keduanya.

2. Sir Alex Ferguson vs Arsène Wenger

Arsene Wenger - Alex Ferguson
Hubungan yang tidak biasa antara SAF dan Wenger dimulai sejak musim pertama Wenger menangani Arsenal (musim 1996-97). Kala itu Wenger mempertanyakan jadwal yang menurutnya menguntungkan Manchester United. Fergie membalasnya dengan memintanya mengeluarkan pendapat hanya tentang sepak bola Jepang saja. Wenger datang ke Arsenal dari klub Liga Jepang Nagoya Grampus Eight.

Seiring persaingan ketat Arsenal dengan United dalam perburuan gelar, tensi persaingan antar manajer pun semakin memanas. Puncak dari rivalitas dua dekade adalah peristiwa terkenal “Pizzagate” pada Oktober 2004. Para pemain kedua tim beserta ofisial tim terlibat keributan dan seorang pemain Arsenal (Cesc Fabregas) melempar makanan khas Italia tersebut mengenai Fergie di terowongan Stadion Old Trafford. Peristiwa yang diakui oleh Ferguson membuat hubungan di antara mereka semakin memburuk.

3. Brian Clough vs Don Revie

Don Revie - Brian Clough
Seperti halnya rivalitas panas antar manajer lainnya, rivalitas Clough dan Revie juga karena keduanya adalah manajer hebat dengan banyak gelar yang diraih, keduanya memiliki pendekatan gaya permainan yang bertolak belakang, dan kompetisi di antara kedua klub yang mereka tangani menjadi yang terbaik di Inggris. Revie yang menangani Leeds United dari 1961-1974 memberi dua gelar liga Inggris, 1 Piala FA dan sederet gelar lainnya menjadi pesaing berat bagi Clough yang juga meraih dua gelar Liga Inggris.

Clough kerap mengkritik Leeds yang disebutnya bermain kotor dan curang, bahkan dia meminta Leeds untuk didegradasi ke Divisi Dua karena catatan disiplin yang buruk. Di sisi lain, Clough dikenal sebagai sosok yang arogan, sedangkan Revie dianggap sebagai sosok yang sopan dan hormat. Namun keduanya yang sama-sama berasal dari Middlesbrough adalah sosok-sosok manajer hebat yang begitu berbeda di dalam dan di luar lapangan. Keduanya membawa klub-klub dari divisi dua promosi lalu dibawanya menjadi juara liga Inggris.

Clough dan Revie kemudian debat terbuka di sebuah acara televisi Yorkshire. Clough tak tahan mengemukakan ketidaksukaannya dengan gaya permainan yang diusung Revie, sebaliknay Revie menyebut Clough berbahaya untuk sepak bola.

4. Kevin Keegan vs Sir Alex Ferguson

Alex Ferguson - Kevin Keegan
Kalimat “I will love it if we beat them! Love it!” merupakan salah satu kutipan paling terkenal dalam sejarah Premier League. Itu merupakan komentar emosional dari Kevin Keegan yang ditujukan kepada Alex Ferguson dan Manchester United.

Meski unggul 12 poin atas United pada Februari 1996, pada akhirnya Newcastle United yang ditangani Keegan disalip United di akhir musim dengan keunggulan empat poin. Emosionalnya Keegan yang berdampak pada mulai menurunnya performa Newcastle menjelang akhir musim disebut-sebt sebagai kepintaran Ferguson dalam membuat Keegan tertekan.

5. Rafa Benitez vs Sir Alex Ferguson

Rafael Benitez - Alex Ferguson
Ferguson secara terbuka menyatakan keinginannya untuk menjungkalkan Liverpool dari tahtanya sebagai klub paling sukses di Liga Inggris, hal yang menyeretnya terlibat dengan beberapa sosok di Liverpool termasuk Benitez yang menangani The Reds dari 2004 hingga 2010.

Pada musim 2008-09, saat Liverpool memuncaki klasemen sementara Premier League, Benitez memulai perang kata-kata di media degan mengatakan bahwa Ferguson dan Manchester United gugup dengan Liverpool yang memimpin klasemen. Sayangnya setelah serangan verbal tersebut justru Liverpool yang gugup dan kehilangan tampuk pimpinan. Pada akhirnya United yang juara dan Fergie dalam buku otobiografinya menyebut Benitez gila kendali dan menganggap kesalahan Benitez adalah membawa rivalitas mereka sebagai urusan personal.

6. Jose Mourinho vs Rafa Benitez

Jose Mourinho - Rafael Benitez
Perseteruan keduanya tak melulu karena tim-tim yang mereka tangani bersaing langsung satu sama lain, tetapi jauh setelah mereka tak berkompetisi langsung. Selalu ada babak baru dalam rivalitas mereka yang sudah berumur 11 tahun.

Keduanya masuk ke Premier League pada musim 2004-05, kompetisi yang intens antara Chelsea dengan Liverpool membuat mereka terlibat rivalitas. Pada 2009, Benitez mengatakan: “Kami awalnya berteman baik, sampai akhirnya Liverpool mengalahkan Chelsea.”

Saat mereka tidak satu kompetisi pun selalu ada perang kata-kata di antara mereka. Seperti saat Benitez menangani Inter, Mourinho yang sedang menangani Real Madrid menyebut bahwa Benitez mesti berterima kasih kepadanya setelah membawa Inter menjuarai Kejuaraan Dunia Antar Klub. Benitez sendiri mengklaim bahwa Mourinho merusak Inter dan meninggalkan tim yang tua untuknya.

Awal musim lalu, istri Benitez (Montserrat Seara) ikut beropini bahwa suaminya selalu harus membereskan segala kekacauan yang ditinggalkan Mourinho pada klub-klub yang kemudian ditangani Benitez. Spontan Mou membalasnya dengan menyebut Benitez telah merusak tim terbaik di Eropa (Inter) dan menyarankan istri Benitez untuk memerhatikan diet suaminya dan sedikit bicara.

7. Sir Alex Ferguson vs Kenny Dalglish

Kenny Dalglish - Alex Ferguson
Dua orang luar biasa dari Skotlandia. Fergie dianggap sebagai manajer terbaik yang pernah dilahirkan Skotlandia sedangkan Dalglish adalah pemain terbaik yang pernah ada dari Skotlandia. Perseteruan mereka membentang selama 50 tahun, kenapa bisa? Rivalitas keduanya dimulai saat Dalglish masih berusia 18 tahun yang ditugasi untuk menjaga Ferguson dalam laga antar tim cadangan. Jelang Piala Dunia 1986, Dalglish dipanggil oleh Ferguson yang kala itu bertindak sebagai manajer. Namun Dalglish mundur dengan alasan cedera serius, oleh media ini dianggap penghinaan berat untuk Ferguson.

Awal rivalitas sebagai manajer dimulai saat Dalglish menangani Liverpool sedangkan Ferguson membesut Manchester United. Setelah pertandingan yang berakhir imbang di Anfield pada 1988, Fergie menuduh wasit dan para asistennya terpengaruh oleh tekanan suporter tuan rumah. Hal yang kemudian dibalas oleh Dalglish saat melewati lorong stadion dengan menggendong bayi perempuannya bernama Lauren, “Anda akan mendapat lebih banyak hal masuk akal dari dia (Lauren)”.

Pada 1995, saat Balckburn Rovers yang ditangani Dalglish melaju dan memimpin klasemen, Ferguson meluncurkan ‘mind games’ demi memberi tekanan kepada Dalglish dan timnya. Bahwa Blackburn akan seperti ‘Devon Loch’ yang jatuh jelang garis finish saat kemenangan sudah tampak di depan mata. Berdasarkan kisah legendaris tentang kuda pacu Devon Loch. Meski tersendat dan bahkan kalah di pertandingan terakhir melawan Liverpool, Blackburn tetap keluar sebagai juara Premier League setelah United hanya sanggup imbang dengan West Ham. Blackburn 89 poin sedangkan United 88 poin, Fergie nyaris berhasil dengan mind games-nya.

8. Cesar Luis Menotti vs Carlos Bilardo

Cesar Luis Menotti - Carlos Bilardo
Inilah konflik tentang cara pandang bagaimana sepak bola mestinya dimainkan. Rivalitas antar mereka sangat prinsip, menyentuh hal-hal yang sangat filosofis. Rivalitas yang melahirkan istilah Menottismo dan Bilardismo, mengacu pada filosofi sepak bola yang mereka anut. Menottismo memercayai bahwa sepak bola sebagai permainan yang indah harus dimainkan dengan indah, sebaliknya Bilardismo meyakini bahwa sepak bola adalah tentang menang, tidak ada yang lain.

Bagi Menotti yang mengantar Argentina juara Piala Dunia 1978, sepak bola adalah perujudan seni, kebebasan ekspresi dan para pemain harus bermain dengan ceria untuk menghibur para penonton. Menotti yang kurus, berambut panjang, suka merokok dan kerap melontarkan kalimat indah punya formasi andalan 4-3-3, sedangkan Bilardo yang pragmatis punya formasi andalan 3-5-1-1 dengan Maradona sebagai andalan di belakang striker tunggal.

Meski mereka sudah tidak terlibat dalam kepelatihan sepak bola. Hingga hari ini, perdebatan di Argentina selalu tentang apakah pelatih baru timnas Argentina menganut Menottismo atau Bilardismo.

9. Arrigo Sacchi vs Fabio Capello

Arrigo Sacchi - Fabio Capello
Jelang bergulirnya Serie A musim 1987-88, Milan akan memilih pelatih baru dengan kandidat Sacchi dan Capello. Capello sendiri menjadi favorit para pendukung Milan karena statusnya sebagai caretaker pada enam pertandingan terakhir musim 1986-87 dan latar belakangnya sebagai mantan pemain timnas Italia yang sempat mencicipi ajang Piala Dunia. Sacchi yang tak pernah menjadi pesepakbola dan hanya seorang penjual sepatu di masa lalunya jelas meradang dan membuat komentar legendaris: “Saya tidak mengerti bahwa untuk menjadi seorang joki seseorang harus menjadi kuda terlebih dulu.”

Setelah memberi 1 Scudetto dan 2 gelar Liga Champions, Sacchi dipecat pada 1991. Capello dipilih ntuk menggantikannya. Era Capello sama suksesnya jika tidak bisa dibilang lebih sukses dari Sacchi, dengan 4 Scudetto dan 1 Liga Champions. Sacchi tidak terkesan dengan gaya permainan yang diusung Capello. Disebutnya dalam beberapa kesempatan wawancara, Capello tidak memainkan sepak bola yang bagus dan bisa sukses karena beruntung tidak pernah menangani tim yang buruk.

Sang pemuja sepak bola menyerang mengatakan begini: “Bagi Capello, sepak bola adalah semua tentang kemenangan. Dia tidak melihat keindahan dalam sepak bola.”

10. Valeri Lobanovsky vs Konstantin Beskov

Beskov Lobanovsky
Layaknya Guardiola vs Mourinho, Menotti vs Bilardo, Clough vs Revie, Sacchi vs Capello, ini rivalitas karena gaya permainan. Beskov adalah idola dari Pep Guardiola, disebut sebagai anti-Lobanovsky dalam konteks gaya permainan. Keduanya adalah manajer hebat yang sama-sama pernah menangani timnas Uni Sovyet dalam 3 kesempatan berbeda.

Mereka bersaing dalam era Uni Sovyet dari akhir 1970-an hingga 1980-an, Beskov dengan Spartak Moskow dianggap sebagai pionir False 9 dan umpan-umpan pendek, kelak sohor sebagai tiki-taka. Beskov melihat sepak bola sebagai seni dan dengan sangat senang hati memberi kebebasan kepada para pemainnya untuk tampil kreatif di atas lapangan. Sedangkan Lobanovsky dengan Dynamo Kiev merupakan seorang manajer yang menerapkan ilmu pengetahuan dalam sepak bola, tak aneh karena Lobanovsky adalah luluasan Tehnik Thermal.

Ada banyak hal kontras dari mereka. Rivalitas mereka adalah benturan filosofi permainan. Lobanovsky menekankan pada sisi fisik sepak bola, Beskov selalu menyukai kecemerlangan kemampuan teknis. Sementara Lobanovsky ingin para pemain bintangnya patuh secara ketat mengikuti taktik, Beskov memberi keleluasaan para pemain untuk berpikir sendiri, terutama di sepertiga akhir lapangan. Lobanovsky yang kelahiran Kiev Ukraina menyukai permainan vertikal cepat. Beskov yang kelahiran Moskow Rusia tidak pernah meninggalkan keindahan gaya umpan-umpan pendek.

Lobanovsky memang jauh lebih mentereng dengan 8 gelar juara Liga Top Sovyet ditambah 2 gelar Piala Winners Eropa dalam durasi 1973-1986, sedangkan Beskov meraih 2 gelar Liga Top Sovyet dari 1977-1988. Namun bisa dibilang, Beskov memiliki lebih banyak penggemar karena gaya permainan yang menghibur.

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0
About Aji Wibowo 104 Articles
“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” - Pramoedya Ananta Toer