Mengolah Sampah ala Pesantren

Tumpukan sampah terlihat di beberapa sudut kota Jakarta menyusul blokir jalan masuk menuju Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang, Bekasi.

Harian Kompas edisi Kamis (5/11) melaporkan penumpukan sampah terjadi di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Cipinang Besar Selatan, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, sudah tiga hari sampah sebanyak 30 ton tidak terangkut.

Pemprov DKI dan Pemkot Bekasi memiliki kesepakatan truk-truk sampah DKI hanya boleh melewati Bekasi pada malam hari. Sementara itu pada siang hari truk-truk sampah hanya bisa menuju Bantergebang melalui Jalan Raya Trans-Yogi di Cileungsi, Bogor.

Namun, sejak Senin (2/11) sekelompok warga menghadang truk-truk sampah dari Jakarta dengan alasan bau tak sedap.

Hingga saat ini masalah pengolahan masih menjadi momok bagi daerah-daerah di Indonesia. Di Jakarta sendiri setiap harinya sebanyak 6.500 ton sampah dibuang oleh warga. Volume sampah ini akan naik rata-rata 5 persen setiap tahunnya.
Saat ini cara paling banyak yang digunakan pemerintah Kabupaten/Kota dalam masalah pengelolaan sampah adalah dengan cara menimbun sampah yang dipusatkan ditempat tertentu. Kita mengenal daerah Bantar Gebang, Bekasi, sebagai tempat akhir pembuangan sampah warga Jakarta.

Pengelolaan sampah dengan cara ditimbun dipilih karena dianggap berbiaya murah. Namun, akibat terbatasnya lahan dan terus semakin naiknya jumlah volume sampah yang dibuang pengelolaan sampah dengan cara menimbun dianggap akan menjadi masalah baru. Banyak kritik yang dilontarkan dari cara pengolahan sampah dengan ditimbun ini seperti misalanya rusaknya lingkungan serta tersebarnya kuman penyakit saat sampah dibawa dari rumah warga ke tempat pembuangan.

Sebetulnya saat ini sudah ada banyak sistem pengolahan sampah alternatif yang dikembangkan dan bisa digunakan. Salah satunya adalah pengolahan sampah dengan cara dibakar atau yang dikenal dengan nama Incenetaror. Teknologi incinerator ini adalah salah satu alat pemusnah sampah yang dilakukan pembakaran pada suhu tinggi.

Teknologi pembakaran ini yang dipilih oleh Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an Ketapang, Tangerang untuk mengatasi permasalahan sampah yang berasal dari ratusan santri setiap harinya.

IMG_1700
“Kami sadar sampah jika tidak ditangani dengan serius maka ini akan menjadi masalah bagi lingkungan. Maka itu kami berinisiatif untuk membangun sendiri pengolahan sampah mandiri” ujar Ustadz Ahmad Jameel selaku Pimpinan Ponpes Tahfidz Daarul Qur’an.
Sampah-sampah yang berasal dari para santri kini dikumpulkan untuk dibakar. Prosesnya cukup cepat dimana sampah dalam waktu satu hari akan habis dibakar pada hari itu juga. Sehingga tidak menimbulkan bau.

IMG_16761
Jafri Baharudin (53), pengelola sampah Daarul Qur’an, mengatakan teknologi ini sebetulnya bukan teknologi baru. Banyak instansi swasta seperti perumahan dan perkantoran yang telah menerapkan teknologi pembakaran sampah ini.
“Untuk tingkat lingkungan seperti pesantren teknologi ini sangat tepat ketimbang sampah harus ditimbun yang tidak saja membutuhkan lahan yang besar serta bisa menjadi tempatnya penyakit” ujar pria asal Sumatera Barat ini.

IMG_1695

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Teknologi ini, tambah Jafri, juga tidak mengganggu lingkungan sekitar karena keluaran emisi yang dihasilkan sangat ramah lingkungan dan memenuhi persyaratan dari Kementerian Lingkungan Hidup.
“Hasil pembakaran mesin ini ramah lingkungan sebab asap hasil pembakaran kita urai lagi dengan pembakaran juga sehingga ketika keluar asapnya sangat halus. Kemudian sisa pembakaran sampah menjadi abu yang bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan batako” ujar nya.

IMG_1725

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ustadz Jameel menambahkan selain di Ketapang, Tangerang saat ini juga sedang dibangun satu unit pembakaran sampah di Pesantren Tahfidz Putri Daarul Qur’an yang berada di Cikarang, Bekasi.

Dicari dengan kata kunci:

  • cara mengatasi sampah yang menumpuk di pondok pesantren
Syakib

Syakib

Suka nulis dan suka baca tapi gak suka ngedit jadi suka typo dan gak sesuai EYD tulisannya...
Syakib

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

'