Konser Sinestesia, Akhirnya Setelah 7 Tahun

Di awali dengan Maraton, Di akhiri dengan Sprint. Itu yang bisa mengibaratkan Album Terbaru Efek Rumah Kaca, Sinestesia. Bagimana tidak, berawal dari rekaman Hilang (Jingga) pada Desember 2009. Sampai akhirnya 18 Desember 2016 Album Sinestesia rilis pertama kalinya di Itunes, Rilisan iTunes dilanjut dengan “Sprint” yaitu Rilis CD dan Konser Sinestesia. Tak butuh waktu sebulan dari rilis iTunes sampai digelarnya konser ini. Cholil dkk sepertinya benar benar ingin segera Finish.

konser sinestesia pic via @shutterbeater

konser sinestesia pic via @shutterbeater

Konser Sinestesia

Hujan mengguyur sebagian besar Jakarta pada 13 Januari 2016 silam. Namun beberapa orang tetap bergerak menuju Teater besar Taman Ismail Marzuki Cikini. Di pintu gerbang TIM, beberapa Calo sudah mulai menanyakan tiket lebih tiket lebih. 1.200 tiket Sold Out dalam waktu kurang lebih 1 Minggu. Penomoran tiket secara manual untuk konser ini memang sedikit membuat adanya Double Seat, Tapi itu tak mempengaruhi konser secara keseluruhan.

Membuka konser dengan Tubuhmu Membiru.. Tragis, ERK menyuguhkan sesuatu yang spesial usai berkolaborasi dengan Irwen Ahmett sebagai Art Director dalam Konser Sinestesia ini. Sekitar 13 lagu dihelat di paruh pertama konser ini. Avin Witarsa dkk mewarnai paruh pertama konser dengan orkestrasinya. Penonton pun seperti disuguhi menu baru meskipun berisi materi lagu lagu lama. Saat Cinta Melulu, Cholil memberikan kesempatan Alvin Witarsa bermain dan disambut oleh Koor seluruh ruangan Teater Besar. Karaoke massal.

Ulsai lagu ke tujuh, Cholil memanggil Adrian Yunan Faisal untuk naik ke atas panggung. Tak langsung sebelah mata yang digeber, namun ERK memilih “Jangan bakar buku” untuk pemanasan. Menurut Rolling Stones “Penghayatan Adrian yang tak terbantahkan sukses menegakkan bulu roma, dan potensial berdampak jangka panjang; alias momen mendengarkan lagu itu, dalam medium apa pun, tak akan pernah sama lagi” Saya pun merasakan itu.

Usai jeda 15 menit, Efek Rumah Kaca melanjutkan konsernya. Sesi kedua tak ada lagi Orchestra. Sesi kedua ini seperti memindahkan audio CD ke konser. Sama persis. Dari mulai lagu “Merah” yang berisi amarah atas ingar-bingar politik, “Biru” dengan koor epic-nya pada frase ‘Pasar bisa diciptakan’, “Jingga” dan deklamasi tentang korban-korban Mei ’98 yang masih tak tentu rimbanya hingga kini, “Hijau” yang begitu mengena liriknya menyoal lingkungan sekitar lewat kalimat ‘Kita konsumsi sampah, kita produksi limbah’, “Putih” yang terasa nyeri dengan bahasan tentang hidup-mati, hingga lagu “Kuning” yang mempertanyakan konsepsi Tuhan dan agama dengan dalam tanpa menggurui, semua mengaduk-aduk dan menyentuh emosi penonton (RoliingStones)

Sebagai penonton, saya merasakan agak boring dengan sesi kedua ini, Entah karena terlalu sering saya memutar playlist terbaru ERK di Gadget dan laptop saya. Tapi terlepas itu semua, konser Sinestesia merupakan pelepas dahaga buat 1.200 penonton yang hadir malam itu.

Ada yang lihat Cholil?

Saat antri tiket, ada seorang rekan bertemu Cholil ikut mengantri tiket VIP.  “Kok ngantri mas?” Celetuk rekan saya. “Buat keluarga mas, kalau yang lain ngantri. Kenapa saya harus tidak ngantri” Ujar sang vokalis ERK tsb.

Terima kasih Efek Rumah Kaca – Kami Semakin yakin, kalau pasar memang bisa diciptakan.

Photo Konser Sinestesia Efek Rumah Kaca bisa di lihat di https://shutterbeater.wordpress.com/2016/01/15/konser-sinestesia/

Temukan Saya

Arista Budiyono

Tukang Nulis dan Nonton at Infosuporter
Saat ini sepakbola Indonesia hanyalah permainan dan sedau gurau belaka
Temukan Saya

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

'