Kelas Menengah Jakarta, Mau Ngapain?

Oleh: Khalidah Nizma Fritz

Siapa kelas menengah? Mas Anies Baswedan pernah menyimpulkan masyarakat kelas menengah adalah mereka yang tidak butuh kehadiran negara, kecuali untuk urusan dokumen kenegaraan seperti KTP, akta, paspor, dan sejenisnya.

“Kalau mau makan mereka beli sendiri, kalau sakit bisa berobat sendiri. Mereka tidak perlu bantuan lagi,” kata Anies Baswedan, saat berdiskusi dengan netizen, Sabtu, 19 November 2016 yang lalu.

Sebagai warga negara, kelas menengah menyimpan kegelisahannya sendiri. Mereka ingin ikut mengurus negara ini, tetapi seringkali bingung dengan apa yang sebaiknya mereka lakukan. Mas Anies memberikan tantangan. “Saya ingin mengajak kelas menengah turun tangan, berbuat sesuatu untuk lingkungan mereka,” kata Mas Anies.

Mas Anies menyebutkan beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, memastikan anak dari orang yang bekerja dengan kelas menengah, terpenuhi kebutuhannya. Misalnya mereka punya sopir atau pembantu, pastikan anak-anaknya sehat dan punya peluang sukses seperti keluarga kelas menengah.

“Jangan kasih uang, tetapi barang. Misalnya seminggu sekali anda bisa memberikan telur untuk dibawa pulang keluarga sopir atau pembantu anda. Apa yang kita makan, berikan ke mereka,” kata Mas Anies.

Mas Anies mengingatkan bantuan ini tidak ada hubungannya dengan transaksi kerja. Sifatnya panggilan moral kelas menengah. Mas Anies pernah menganjurkan ide ini dan dilaksanakan oleh Kedutaan Jepang. “Saya dikira ahli telur,” ujar Mas Anies sambil tersenyum.

Kedua, terlibat dengan lingkungan rumahnya. Anak muda kelas menengah menjadi ketua RT (rukun tetangga). Ketua RT dengan pengalaman profesional pasti berbeda.

“Jangan beralasan sibuk. Anda bisa bekerja, lalu menugaskan anak muda untuk mengurus rutinitasnya, terima laporan mingguannya. Di perusahaan bisa mendelegasikan pekerjaan, mengapa pas jadi ketua RT tidak bisa?” lanjut Mas Anies.

Ketiga, mengajak rekan kerja untuk membantu lingkungan di sekitar kantor. Misalnya anda berkantor di wilayah Karet Tengsin, ajak rekan kerja yang segedung dengan anda untuk membantu wilayah itu. Perhatikan pendidikan anak-anaknya, kesehatannya, dan seterusnya.

Keempat, ikut mendidik anak-anak di lingkungan rumah anda. Caranya, buat jam belajar malam, lalu kumpulkan anak-anak muda untuk mengajar bergantian. Kalau pengajarnya banyak, satu orang bisa mengajar hanya seminggu atau dua minggu sekali.

Dengan begitu, kelas menengah tidak hanya bayar pajak dan jadi penonton, tetapi mengajak lingkungannya maju bersama.

“Yuk, repot-repot ngurus kota ini. Yuk repot-repot ngurus negara ini. Karena repot-repot rasanya menyenangkan,” kata Mas Anies Baswedan suatu sore.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

'