Kalaeidoskop 2015: Ironi Kecelakaan Armada Udara Yang Selalu Berulang

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook1Share on Google+0Tweet about this on Twitter2Share on LinkedIn0

Masing teringat jelas, bagaimana “elang besi-elang besi” bergemuruh di atas langit Cilegon tatkala perayaan HUT TNI ke-70 digelar pada 5 Oktober 2015 silam. Dada siapapun yang berada di area tersebut akan ikut bergemuruh dan bangga dengan pencapaian kekuatan militer kita yang demikian hebat dan kuat. Dengan deretan armada pesawat tempur dan alusista yang begitu beragam dan canggih serta jumlahnya yang semakin banyak, masyarakat Indonesia bisa menutup tahun 2015 sambil memandang TNI Angkatan Udara dengan senyum mengembang dan penuh kebanggaan.

Sikap itu nampaknya perlu dipertahankan. Sebab apapun yang terjadi dengan Tentara Nasional Indonesia, mereka kita tetaplah tentara kita, tentara rakyat Indonesia. Meskipun begitu, kita perlu mereview beberapa peristiwa-peristiwa nahas yang melibatkan sejumlah peralatan tempur yang dibeli dengan harga yang tidak murah. Tujuannya sederhana yaitu untuk mengingatkan pemangku kepentingan dan masyarakat umum agar peristiwa tersebut menjadi pelajaran berharga dan tidak berulang kembali di waktu berikutnya. Peristiwa pertama terjadi di awal tahun. Belum habis semester pertama 2015 menyapa masyarakat Indonesia, kecelakaan pesawat di Indonesia terulang kembali. Tanggal 15 Maret 2015, dua pesawat milik TNI AU bersenggolan, jatuh dan terbakar saat sesi latihan sebelum pergelaran Langkawi International Maritme & Aerospace Exhibition (LIMA). Dua pesawat yang terlibat insiden itu adalah KT-1 B Wong Bee buatan Korea Selatan yang biasa digunakan oleh tim akrobat TNI AU yang akan berlaga, Jupiter. Beruntung selamat. Keempat awak yang mengendalikan pesawat tersebut tertolong berkat kursi lontar aktif yang terpasang di kokpit pesawat.

Hampir genap satu bulan dari peristiwa itu, insiden kembali terulang. Salah satu jenis pesawat tercanggih TNI Angkatan Udara menjadi korban yaitu pesawat tempur F 16 C/D -52 ID dengan nomer registrasi TT-1643 yang terbakar di run way saat hendak take-off dari Bandara Halik Perdanakusuma. Pesawat hibah yang di-upgrade dengan sejumlah peralatan dan avionik canggih itu gagal terbang dan terbakar. Rencananya pesawat itu akan digunakan untuk upacara pembaretan Presiden Joko Widodo sebagai warga kehormatan pasukan khusus Tentara Nasional Indonesia.

Insiden lainnya terjadi tanggal 30 Juni 2015. Pesawat Hercules dengan nomer registrasi A-1310 jatuh dan terbakar di lokasi yang hampir sama dengan peristiwa jatuhnya pesawat Mandala Airlines tahun 2005 yang menewaskan 101 jiwa. Pesawat legendaris yang hendak melakukan tugas penerbangan ke Tanjung Pinang dan Pontianak itu jatuh, terbakar serta menewaskan 122 jiwa. Pasca tragedi tersebut, seluruh armada pesawat Hercules di-grounded untuk dilakukan pengecekan menyeluruh ke seluruh armada.

Peristiwa yang terjadi di semester akhir tahun 2015 adalah jatuhnya pesawat T-50i Golden Eagle pada acara Gebyar Dirgantara tanggal 20 Desember 2015 di Lanud Adisucipto Yogyakarta. Peristiwa itu menewaskan pilot dan ko-pilotnya, Letkol (Pnb) Marda Sarjono dan Mayor (Pnb) Dwi Cahyono.

Jika dirunut sejak awal tahun hingga tutup tahun, setidaknya ada empat kecelakaan pesawat militer dengan tiga diantaranya melibatkan kecelakaan pesawat tempur. Aneh dan lucunya, pesawat-pesawat tempur tersebut tergolong baru dan terjadi pada misi-misi yang bukan tergolong operasi militer, baik infiltrasi maupun serbuan frontal. Dengan rata-rata masa pengabdian pesawat tempur lebih dari 15 tahun dapat dibayangkan bukan bagaimana dengan sisa pengabdiannya jika dalam masa pakai tidak lebih dari 5 tahun pesawat-pesawat tersebut bertumbangan sebelum bertempur.

Berbeda dengan dunia pesawat sipil komersiil di Indonesia yang memiliki Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk melakukan investigasi penyelidikan kecelakaan pesawat, di dunia militer sedikit berbeda. Khususnya di TNI, investigasi kecelakaan yang melibatkan pesawat tempur baru akan dibentuk sesaat setelah terjadi insiden. Meski sifatnya insidental namun pada dasarnya TNI memiliki ahli-ahli yang mengerti detil pesawat dan tata aturan penerbangan yang rigid serta memiliki kemudahan untuk mengkoordinasikan unsur-unsur yang saling terkait dalam peristiwa tersebut.

Jika ditambah dengan jumlah kecelakaan pesawat sipil di Indonesia sepanjang tahun 2015 seperti yang dialami Cardig Air, Aviastar, Trigana Air dan Air Asia maka tidak terhitung besarnya harga pelajaran yang harus di tanggung Pemerintah Indonesia di sektor penerbangan.

Kita tidak bisa berandai-andai atau saling menyalahkan siapa yang harus bertanggung-jawab atas serangkaian peristiwa tersebut. Pada dasarnya, setiap struktur komando di tubuh TNI harus berani mempertanggungjawabkan diri dan jabatannya jika terjadi sebuah insiden yang menimbulkan korban yang tidak sedikit.

Pengetatan Quality Control (QC) dalam segala hal mungkin adalah jalan terbaik untuk mencegah peristiwa tersebut terulang kembali. Quality control yang dimaksud dilakukan terhadap manusia, mesin, media, manajemen dan peralatan. Selain hal tersebut, up grade kemampuan air crew dan ground crew untuk menguasai segala hal detil teknologi, mesin hingga kemampuan mengendalikan pesawat dan dog fight (pertempuran udara) harus ditingkatkan hingga melebihi kebiasaan dan rutinitas yang selama ini sudah dilakukan prajurit TNI.

Meski melelahkan, Angkatan Udara Israel melakukannya. Karenanya, mereka tidak hanya terkenal dengan zero accident pada penerbangan pesawat tempur untuk misi damai dan akrobat, namun lebih dari itu, mereka bahkan sanggup membuat sebuah pesawat tempur dan crew-nya melakukan misi-misi mustahil yang bahkan tidak sanggup dilakukan negara pembuat pesawat tempur tersebut Bukanklah untuk menjadi poros maritim dunia, kita harus unggul dalam segala hal dan melewati batas-batas standar yang dibuat oleh kita sendiri?

Oleh Muhammad Sadan, Pemerhati Dunia Militer dan Dirgantara

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook1Share on Google+0Tweet about this on Twitter2Share on LinkedIn0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *