Industri Buku Cetak Masih Jauh Dari Kematian

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0

Lima tahun lalu, dunia percetakan buku dilanda kepanikan akan masa depan yang tidak pasti akan nasib buku cetak. Banyak pembaca berpindah keperangkat digital baru. Disaat bersamaan penjualan e-book meningkat naik 1.260 persen antara tahun 2008 hingga 2010.

Penjual dilanda kekhawatiran pengunjung toko buku hanya mendatangi toko mereka untuk mencari judul dan akan membeli buku versi digital. Penjualan buku versi cetak pun menyusut. Toko buku berjuang agar tetap buka sementara itu penerbit dan penulis khawatir akan bisnis mereka akibat harga e-book yang lebih murah.

Puncaknya pada tahun 2011 saat jaringan toko buku terkemuka di Amerika Serikat, Borders Group jatuh bangkrut dengan meninggalkan utang besar kesejumlah penerbit.

“Penjualan e-book akan terus meluncur ke atas” ujar Len Vlahos, mantan direktur eksekutif Book Industry Study Group, sebuah lembaga penelitian non-profit yang melacak industri penerbitan buku sebagaimana dilaporkan NewYorkTimes.com

“Hampir setiap orang industri buku akan menempuh jalan industri musik yang masuk penuh ke dunia digital” ujarnya.

Namun kematian buku cetak akibat digital tak pernah tiba. Disaat banyak analis penjualan e-book akan melampaui penjualan cetak pada tahun 2015, faktanya penjualan buku digital melambat tajam.

Sekarang, ada tanda-tanda pembaca e-book akan kembali menjadi pembaca buku cetak atau setidaknya mereka akan memadukan keduanya. Dalam lima bulan pertama tahun 2015 penjualan e-book turun 10 persen sebagaimana diungkap Asosiasi Penerbit Amerika yang mengambil data dari 1.200 penerbit.

Penurunan penjualan ini harus menjadi signal bagi para penerbit, bahwa pembaca buku tidak sepenuhnya terpengaruh dengan dunia digital layaknya dunia musik dan televisi.

Kini penjualan perangkat khusus untuk membaca telah menyusut seiring konsumen berpindah ke smartphone. Dan menurut beberapa survey pembaca usia muda yang akrab dengan dunia digital lebih suka membaca buku cetak.

Kejutan bisa bertahannyan industri buku cetak membawa semangat baru bagi para penjual. Toko buku independent, yang babak belur oleh resesi dan kalah kompetisi dengan Amazon, menunjukkan tanda-tanda kemunculan kembali. Asosiasi Penjual Buku Amerika mencatat kini ada 1,712 anggota di 2.227 lokasi. Angka ini naik dari data lima tahun lalu yang hanya ada 1,410 anggota di 1,660 lokasi.

Penebit pun melihat data ini untuk kembali menuangkan uang bagi infrastruktur cetak dan distribusi. Penerbit Hachette menambah luas gudang mereka di Indiana sebesar 218,000 kaki. Lalu Simon & Schuster memperluas fasilitas distribusi mereka di New Jersey sebesar 200,000 kaki persegi.

Begitu juga Penguin Random House yang menambah investasi sebanyak 100 juta Dollar Amerika untuk memperbesar gudang mereka dan memperbarui sistem distribusi.

“Orang berbicara tentang kematian buku fisik seolah-olah itu hanya masalah waktu, tetapi bahkan 50 sampai 100 tahun dari sekarang, buku cetak akan menjadi inti bisnis kami” ujar Markus Dohle, Kepala Eksekutif Penguin Random House.

“Kami melihat banyak pembaca buku kembali ke buku cetak” ujar Arsen Kashkashian, seorang pecinta buku. “Mereka yang tadinya membaca di Kindle sekarang tidak membaca sama sekali atau setidaknya mereka membaca keduanya”

Sementara itu beberapa eksekutif penerbitan mengatakan terlalu cepat untuk mengatakan gelombanh digital berkurang.

“Mungkin itu hanya jeda sementara” ujar Carolyn Reidy, Kepala Eksekutif Simon & Schuster.

“Apakah generasi berikutnya akan membaca buku di Smartphone mereka, dan apakah kita akan melihat ledakan berikutnya?”

Lalu, gimana dengan Anda urbaners, lebih suka baca digital atau buku cetak?

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0
One Response
  1. Buku Penerbitan 1 year ago