Geliat Busana Muslim di Swedia dan Sejarah Panjang Penolakannya

Dalam beberapa minggu terakhir brand fashion Swedia Hennes & Mauritz, yang dikenal dengan nama H & M dipasar global, menjadi berita utama saat menampilkan seorang wanita muslim berhijab dalam kampanye video koleksi tahun 2015 mereka.

Tidak hanya H & M yang yang melakukan hal tersebut, Ahlens department store juga menampilkan perempuan muslim berhijab dalam kampanye tahun 2015 mereka.

aldebe

Tidak hanya mendapat pujian, langkah tersebut juga mendapat kritikan, dengan beberapa pengusaha retail lainnya mengatakan hal tersebut mendukung, “normalisasi jilbab dan mendukung penindasan perempuan”

Namun respon tersebut terasa biasa oleh Iman Aldebe, desainer muslim kelahiran Swedia yang terlahir dari orang tua yang berasal dari Jordania. Banyak hasil karya Aldebe kini dijual di departement store ternama di Swedia, Paris, New York dan Dubai.

Penerimaan akan busana muslim di Swedia tidak semudah yang dibayangkan. Sebagai putri dari seorang imam masjid yang baru saja pensiun, Aldebe dibesarkan di sebuah keluarga muslim yang taat di Stockholm, dimana, di awal 1990-an, satu-satunya tempat ibadah adalah sebuah masjid di ruang bawah tanah yang juga berfungsi sebagai pusat komunitas.

Muslim dari seluruh negeri akan datang ke ibukota untuk beribadah disana, membeli buku-buku agama, mencari makanan halal serta belajar Quran.

“Saya mulai mengenalan jilbab ketika saya berumur enam tahun” ujar desainer berusia 30 tahun tersebut. “Pertumbuhan saya selalu berada dalam sorotan dimana memakai busana yang berbeda dari masyarakat sekitar”

Aldebe belajar desain fashion di sekolah ketika ia berusia 16 tahun dan dengan cepat menyadari ada sisi kewirausahaan dalam bidang yang ditekuninya tersebut.

“Saya memulai dari pesanan kecil untuk lingkaran terdekat dari teman-teman saya dan keluarga”

Di sela-sela kuliah Aldebe berusaha mencari kerja di dunia nyta. Tahun itu pula ia merasakan adanya diskriminasi bagi mereka yang berjilbab.

Dia ingat ketika melihat iklan disebuh butuk yang mencari orang untuk divisi penjualan.

“ketika saya masuk dan mencoba mendaftar posisi tersebut, saya diberitahu bahwa lowongan tersebut sudah terisi” kisahnya.

“Namun, saya merasa itu tidak benar. Lalu saya mengirim seorang teman yang tidak mengenakan jilbab. Lalu dengan semangatnya sang pemilik toko bertanya kapan dia bisa mulai bekerja”

Ia juga pernah mencari kerja lewat bursa penyalur kerja dan diberitahu oleh petugas yang menanganinya bahwa agama tidak boleh masuk di tempat kerja.

“Orang itu juga mengatakan kepada saya bahwa lebih baik jika melepas jilbab saya untuk mendapatkan pekerjaan” ujarnya.

Aldebe merasa kecewa. Ia pun kembali ke bangku univertas untuk menyelesaikan kuliahnya. Dia lulus pada tahun 2012 di bidang jurnalisme penyiaran dan hukum.

Tak lama ia mendapatkan pekerjaan paruh waktu di sebuah butik, tapi pertama-tama ia harus melakukan penyesuaian pada jilbab yang digunakannya.

“Saya memutuskan untuk mengubah saya memakainya, dari membungkusnya di sekitar wajah saya untuk mengikat semuanya di belakang seperti kepala bungkus tradisional Afrika. Lalu saya menjalani wawancara tersebut dan saya diterima”

Sejak itu Aldebe berpikir bahwa ia bisa memodifikasi jilbabnya yang bisa diterima baik dalam komunitas Islam dan masyarakat Swedia.

Pada tahun 2006, Aldebe muncul, bersama dengan beberapa desainer Muslim lainnya, di acara pagi TV4 Swedia TV4 untuk membahas gaya jilbab.

“Setelah segmen itu, Aftonbladet, sebuah koran Swedia terkemuka, mengulurkan tangan untuk Swedia department store dan bertanya apakah mereka akan mempertimbangkan menjual jilbab untuk busana muslim,” jelas Aldebe.

Jawabannya, mereka mengatakan, tidak ada.

Aldebe mulai berpikir lebih serius tentang konsep modernisasi busana muslim. Dia merasa yakin bahwa toko-toko ini akan mengubah pendapat mereka setelah mereka menyadari berapa banyak pasar bisa diserap. Dia mulai mendirikan bisnis fashion sederhananya.

“Menarik kini saya melihat beberapa toko yang menolak menjual busana muslim tahun lalu kini merangkul dan memanfaatkan busana muslim untuk pendapatannya”

Dan pasar busana muslim terbukti pasar yang cepat tumbuh. Menurut sebuah laporan 2014-2015 oleh Thomson Reuters, Muslim global menghabiskan $ 266bn pada pakaian dan jumlah itu diperkirakan akan meningkat menjadi $ 484bn pada 2019.

Aldebe mengungkapkan titik baliknya terjadi saat serangan 9/11 di Amerika Serikat. Permusuhan terhadap muslim tumbuh dan muslimah dengan jilbabnya menjadi sasaran serangan. Beberapa memilih untuk melepasnya, dan Aldebe berusaha membantu mereka yang ingin tetap menggunakannya dengan cara memodernisasi.

Dan, untuk Aldebe, ini adalah lebih dari sekedar fashion. Dia menjelaskan bagaimana, di masa lalu, banyak wanita Muslim di Swedia merasa bahwa mereka tidak bisa melamar pekerjaan yang dikenakan karena jilbab yang digunakan. Hasilnya adalah bahwa pilihan karir mereka terbatas.

Tapi, pada tahun 2007, Aldebe ditugaskan untuk membuat jilbab yang sekarang merupakan bagian dari seragam resmi polisi Swedia bagi polisi perempuan Muslim yang memilih untuk memakainya. Dia juga merancang sebuah jilbab militer resmi bagi tentara Swedia, serta untuk petugas pemadam kebakaran, apotek dan rumah sakit.

polisiswedia

“Saya menggunakan mode sebagai alat untuk menghilangkan prasangka terhadap Muslim,” katanya.

Tapi dia belum memenangkan semua orang atas usahanya memodernisasi busana muslim. Sejumlah kecaman dan ancaman datang dari komunitas sayap kanan Swedia.

“Sejak 2011, saya diancam oleh nasionalis Swedia yang memulai kampanye kebencian terhadap saya.”

Dia menerima ancaman melalui telepon, pesan teks, Facebook, email dan pesan yang diposting di blog-nya.

Beberapa forum percakapan internet memiliki percakapan tentang bagaimana dia tidak layak untuk hidup.

“ancaman meningkat ketika saya diminta untuk merancang topi jilab untuk polisi”

Tapi dia tetap tegas.

“Saya merasa sangat bangga dan terinspirasi untuk melihat wanita Muslim berjilbab dalam kepolisian Sweida” katanya. “tidak mudah untuk menjadi pelopor dalam apa pun, itu adalah tanggung jawab besar tapi kami harus melakukannya.”

Aldebe mengakui bahwa banyak wanita Muslim yang mengenakan jilbab telah berhasil dalam industri fashion dan pekerjaan lain tanpa harus mengubah cara mereka memakainya. Tapi, katanya, “setiap orang harus melalui pertempuran mereka sendiri dan melakukan hal-hal dengan cara mereka sendiri”.

“Saya tidak bisa menunggu selama 100 tahun sampai hal-hal berubah di Swedia. Saya harus membuat beberapa perubahan dan datang dengan solusi yang bekerja untuk saya,” tambahnya. (Aljazeera)

Dicari dengan kata kunci:

  • Muslim swedia
Syakib

Syakib

Suka nulis dan suka baca tapi gak suka ngedit jadi suka typo dan gak sesuai EYD tulisannya...
Syakib

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

'