Gabus Pucung, Kuliner Betawi Yang Langka Dicari

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook0Share on Google+1Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0

Jakarta seperti halnya melting pot, tempat terjadinya percampuran beragam budaya. Aneka kebudayaan peninggalan para penjajah dan pedagang yang transit pada jaman dahulu, telah berbaur membentuk budaya baru. Diantaranya kebudayaan Belanda, Portugis, Tionghoa, Arab, India, Jawa dan Melayu. Hal ini pun terjadi pada kulinernya.

Misalnya kuliner Eropa seperti steak yang telah diadopsi menjadi semur. Selain Semur Jengkol yang lazim ditemukan dalam daftar nama makanan khas Betawi, terdapat Gabus Pucung salah satunya yang juga memiliki kuah seperti semur.

Gabus Pucung adalah sayur ikan gabus yang memiliki kuah hitam pekat karena menggunakan pucung (kluwak) dalam kuahnya. Pucung atau kluwak ini biasa digunakan untuk bumbu Rawon. Jika masakan Rawon menggunakan daging, nah, Gabus Pucung ini menggunakan ikan gabus.

Bahan utamanya adalah ikan gabus yang disajikan dalam potongan-potongan. Ikan tersebut digoreng terlebih dahulu, kemudian dicemplungkan ke dalam kuah semur tadi. Kuah semur tersebut terdiri dari kemiri, bawang merah, bawang putih, cabe merah, jahe, kunyit dan daun salam. Semua bumbu tersebut digiling, lalu kemudian ditumis dan dimasukan ke dalam air. Jangan lupa dengan pucungnya. Karena pucungnyalah yang membuat cita rasa ikan gabus tadi menjadi nikmat. Kemudian ikan dimasak hingga lunak.

Meski makanan khas Betawi, Gabus Pucung ini termasuk kuliner langka yang sulit ditemukan di Jakarta. Berbeda dengan Kerak Telor yang saat ini lazim ditemukan di tempat umum. Selain jarang sekali ada rumah makan yang menyediakan masakan tradisional ini, ikan gabusnya pun sulit diternak. Hal ini dikarenakan ikan gabus hanya bisa ditemukan di sungai atau rawa.

Selain Jakarta, kuliner ini juga dikenal di Bekasi. Sebagian wilayah Bekasi yang banyak mendapat pengaruh dari masyarakat Betawi – misalnya sebagian Kota Bekasi hingga Tambun dan Cibitung – mengenal masakan ini sebagai masakan untuk para bos.

Sementara, dalam tradisi kehidupan masyarakat Betawi, Gabus Pucung menjadi makanan yang hanya disajikan pada acara keluarga. Seperti tradisi nyorog dalam masyarakat Betawi, tradisi membagi-bagikan bingkisan makanan oleh anak kepada orangtua atau mertua. Tradisi ini dilakukan saat menjelang puasa atau lebaran. Nah, dalam tradisi ini, salah satu menu yang dibagikan adalah Gabus Pucung.

Dicari dengan kata kunci:

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook0Share on Google+1Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *