Efektif Menyampaikan Pesan Dengan Story Telling

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
0Share on LinkedIn
Linkedin

Penulis The Storytelling Animal ini mengatakan, ilmu pengetahuan telah menjadi penyokong atas keyakinan lama bahwa cerita adalah cara yang paling ampuh untuk mengkomunikasikan pesan.

Dalam bisnis, mendongeng adalah semua bentuk kegusaran. Tanpa sebuah cerita yang menarik, maka produk, ide, atau bahkan merek pribadi, telah mati pada saat kemunculannya. Peter Guber dalam bukunya Tell to Win bergabung dengan penulis seperti Annette Simmons dan Denning Stephen melakukan penginjilan kekuatan cerita dalam urusan manusia pada umumnya, dan bisnis pada khususnya.

Guber berpendapat bahwa manusia tidak akan tergerak untuk bertindak bila hanya dengan “dump data,” PowerPoint slide yang padat, atau spreadsheet yang dikemas dengan angka. Orang-orang digerakkan oleh emosi. Cara terbaik untuk terhubung secara emosional dengan orang lain untuk melancarkan agenda kita adalah dimulai dengan “Pada suatu hari …”.

Cukup masuk akal. Namun klaim kekuatan bisnis dalam bercerita biasanya hanya didukung dengan cerita yang “lebih”. Guber, misalnya, sokongan atas klaim yang berani ia katakana adalah dengan bagaimana ia, atau salah satu teman yang terkenal, menceritakan sebuah cerita yang baik dan mencapai kemenangan persuasi. Tapi anekdot tidaklah menciptakan ilmu. Apakah “mengatakan untuk menang” hanya menjadi mode terbaru dalam dunia bisnis yang terus menyapu dengan mode baru untuk sukses? Atau apakah itu mewakili wawasan nyata dan mendalam ke dalam sebuah strategi komunikasi?

Sampai saat ini hanya bisa berspekulasi tentang efek persuasif cerita. Tapi selama dekade terakhir beberapa psikolog telah memulai studi serius bagaimana cerita mempengaruhi pikiran manusia. Hasil berulang kali menunjukkan bahwa sikap, ketakutan, harapan, dan nilai-nilai sangat dipengaruhi oleh cerita. Bahkan, fiksi tampaknya lebih efektif dalam mengubah keyakinan dibandingkan tulisan yang secara khusus dirancang untuk membujuk melalui argumen dan bukti.

Para psikolog seperti Melanie Green dan Tim Brock berpendapat bahwa memasuki dunia fiksi “secara radikal telah mengubah cara pemrosesan informasi.” Studi Green dan Brock menunjukkan bahwa pembaca lebih menyerap cerita; semakin “dalam” cerita, semakin terjadi perubahan pada mereka. Pembaca yang terserap ini dapat mendeteksi secara signifikan hanya sedikit “catatan palsu” dalam cerita, ketidakakuratan, serta salah langkah. Mereka tidak dapat mendeteksi catatan palsu di tempat pertama.

Begitulah, bagaimana bercerita bisa digunakan sebagai strategi komunikasi karena efek persuasi yang dihasilkannya. Maka, jika pesan ingin tersampaikan dengan efektif, cobalah gunakan metode bercerita ini.

(Diterjemahkan dari tulisan Jonathan Gottschall yang diterbitkan fastcocreate.com)

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
0Share on LinkedIn
Linkedin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *