Desa Ini Larang Warganya Pelihara Burung Dara

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook1Share on Google+0Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0

“Jika ada warga yang memelihara burung dara, maka warga boleh langsung menembaknya” ujar Mardiono (70) takmir masjid Dusun Gebang, Kelurahan Girisuko, Kecamatan Panggang, Gunung Kidul, Jawa Tengah.

Larangan memelihara burung dara, tambah Mardiono, merupakan kesepakatan yang dibangun oleh warga Dusun Gebang.

Apa penyebabnya?

Kesepakatan ini didasari tidak adanya sumber air tanah di Dusun Gebang. Otomatis penduduk menjadikan air hujan sebagai sumber air utama. Maka jika diperhatikan talang air dirumah warga selalu mengalir ke tempat penampungan, setiap rumah memiliki dengan kapasitas beragam, yang akan mereka gunakan untuk keperluan sehari-hari.

Untuk itu warga dilarang memelihara burung dara, agar kotorannya tidak ada diatap genteng yang nantinya akan terbawa sealiran air hujan ke tempat penampungan air.

“Awal tidak ada larangan. Namun, saat ada tim penyuluh kesehatan datan dan memberi informasi bahaya dari kotoran burung dara maka warga sepakat memberlakukan larangan tersebut” tambah Mardiono.

Lalu gimana jika tidak ada hujan? Dari mana warga mendapatkan air bersih?

Mardiono menjawab warga memenuhi kebutuhan air dengan membelinya dari tempat penampungan. Satu tangki air dengan kapasitas 5000 liter ditebus dengan harga Rp 170 ribu.

“Itu hanya cukup untuk sepuluh hari meski kita sudah mengirit dalam memakai air” ujarnya.

Dicari dengan kata kunci:

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook1Share on Google+0Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0