Dari Peluang Hidup 0,005 Persen Menuju Hafidz Qur’an

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook0Share on Google+1Tweet about this on Twitter2Share on LinkedIn0

Bahagia nian Eko Fauzan Adiwangsa, saat istrinya Siti Marfuah, positif hamil pada Oktober 2008. ‘’Alhamdulillah, akhirnya datang juga,’’ kata warga Kec Sukaraja, Tasikmalaya, yang telah 3 tahun merindukan kehadiran anak pertamanya ini.

Namun, empat bulan kemudian, kebahagiaan Eko seperti melayang. Saat itu, Februari 2009, sang istri mengalami bleeding (pendarahan) dan tanpa disangka anaknya terlahir. Ajaibnya, si jabang bayi hidup, walaupun dengan peluang bertahan hanya 0,005 persen menurut kalkulasi medis.

Bayi prematur tersebut beratnya cuma 1,2 kg dengan panjang 15 cm. Bagian-bagian tubuhnya belum lengkap. Faza, demikian Eko menamakannya.

Walau begitu, Eko meyakinkan dokter bahwa Faza bisa bertahan dengan keajaiban. “Saat itu, bagaimanapun caranya, berapapun biayanya, saya minta para dokter untuk membantu anak saya bertahan hidup. Meskipun, para dokter mengatakan peluang hidup anak saya hanya 0,005 persen,” kenang Eko.

Padahal, biaya persalinan dini itu mencapai Rp 1 juta perhari. Sedang Eko, hanya seorang karyawan di salah satu bank konvensional di Bandung. Namun Eko pasrah total pada Yang Maha Kuasa.

Untuk biaya rumah sakit, Eko dengan seijin keluarga besarnya menggadaikan sertifikat rumah dan tanah milik orangtuanya. Doa-doa yang terucap maupun terbatin tak putus dipanjatkannya bagi sang anak yang tubuhnya terinkubasi dengan dipenuhi selang infus; Tangan, kaki, mulut, hidung hingga telinga tak luput dari selang infus yang mengalirkan nutrisi serta obat untuknya.

Alhamdulillah, dengan segenap kondisinya, Faza bertahan hingga berumur 7 tahun kini. Kehadirannya pun membawa perubahan positif bagi kedua orangtuanya.

Siti yang merasa bersalah dengan keaktifannya selama mengandung Faza, kemudian mengurangi aktivitas sosial di luar rumah. Ia juga berhenti bekerja sebagai guru, demi merawat Faza di rumah.

Eko juga begitu. Ketika Faza baru lahir, ia getol mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kini, Faza lah yang ‘’memaksa’’-nya tetap rajin beribadah. Bocah ini menangis jika ayahnya tidak membaca Qur’an, sholat tahajud, dan shubuhan berjamaah di masjid.

Mata Faza memang tidak dapat melihat. Namun, ia dikaruniai daya ingatan yang tinggi plus suara khas yang merdu. Kelebihan ini disalurkan secara positif oleh orangtuanya, sehingga Faza kini menjadi santri tahfidz Qur’an yang membanggakan.

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook0Share on Google+1Tweet about this on Twitter2Share on LinkedIn0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *