Asap dan Ancaman Kehidupan

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook5Share on Google+0Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0

Titik api di Kalbar oleh Indra Kusuma

Musibah kabut asap akibat pembakaran hutan kembali terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Setiap tahun musibah ini selalu terulang dan belum terlihat solusi pasti dari pemerintah Indonesia.
Sumatera dan Kalimantan menjadi wilayah langganan serbuan kabut Asap ini. Kabut asap sendiri banyak ditemukan dilahan-lahan Kelapa Sawit dan pohon penghasil kertas. Kabut asap umumnya terjadi akibat praktik membuka lahan baru dengan cara membakar pohon-pohon yang baru dipanen. Hawa panas akibat kemarau panjang semakin menambah luasan lahan yang terbakar.
Banyak kerugian dari peristiwa ini. Terganggunya jadwal penerbangan, Sekolah-sekolah diliburkan, ribuan warga mengungsi serta ancaman bagi kesehatan berupa infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), radang paru-paru dan iritasi mata dan kulit.
“Polusiakibat kabut asap akibat kebakaran lahan ini juga dapat mematian bayi dalam kandungan” ujar Dr Azziman Saad, Spesialis Paru dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pekanbaru sebagaimana dikutip dari National Geographic.
Menurut Azizman Sumber polutan berupa karbon monoksida yang tidak berwarna, tidak berbau, yang dihasilkan dari pembakaran kayu yang tidak sempurna, akan berikatan dengan hemoglobin dan menghasilkan karboksi hemoglobin yang berdampak kurangnya pasokan oksigen ke organ vital.
“Kadar oksigen murni harusnya 20 persen. Saat terjadi pembakaran hutan kadar oksigen murni akan turun menjadi 11 persen. Kondisi itu akan mengganggu asupan oksigen pada ibu hamil sehingga bayi dikandungan akan terancam lahir dengan berat badan rendah atau bahkan mengalami kematian” ujar Azizman.
“kekurangan oksigen dalam lima menit saja mengancam kematian sel otak secara permanen” tambahnya.
Zat berbahaya lainnya dari asap pembakaran hutan ini, ujar Azizman, adalah kondensat asap biomassa. Polutan ini jika masuk pada mata akan menimbulkan perubahan oksidatif yang mengakibatkan katarak.
Jadi, jangan anggap enteng kabut asap ini.

 

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook5Share on Google+0Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn0