Alasan Sandiaga Berencana Batasi Mobil Mewah

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook29Share on Google+2Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn1

Calon wakil gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno, diberitakan berniat untuk membatasi warga kalangan menengah ke atas dalam menggunakan mobil mewah di jalanan Jakarta. Namun, di satu sisi, dia mendukung warga kalangan menengah untuk memiliki mobil yang termasuk dalam kategori low cost green car (LCGC) yang merupakan program pemerintah pusat.

“Mungkin, secara jumlah, LCGC lebih banyak, tetapi enggak banyak jalan. Malah mobil-mobil mewah itu yang (saat penerapan kebijakan) ganjil genap selalu mondar-mandir. Mereka dimiliki oleh orang-orang berduit,” kata Sandi seusai menemui warga RW 03 Kelurahan Kedaung Kaliangke, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, Selasa (1/11/2016) malam tadi.

Keterangan Sandi tentang LCGC tersebut merupakan bagian dari Program Angkutan Umum Murah, menyasar pada upaya menurunkan ongkos atau biaya transportasi warga. Menurutnya, Jakarta sudah saatnya harus memulai secara masif kebijakan pengurangan penggunaan kendaraan bermotor pribadi.

“Untuk itu, biarpun LCGC, ya penggunaannya tetap harus dibatasi dan perlahan mendorong mereka beralih ke angkutan publik yang nyaman, aman, mudah dicapai dan terjangkau oleh warga,” tegas Sandi saat dihubungi melalui telepon seluler.

Sumber foto: http://jakartasatu.co/

Sumber foto: http://jakartasatu.co/

Sandi melihat, upaya tersebut dapat dimulai dari pembatasan pembelian mobil-mobil mewah, disamping upaya-upaya lain yang lebih penting untuk segera dilakukan dalam rangka mengajak masyarakat utk beralih ke transportasi publik. Seperti, integrasi angkot-angkot ke dalam transjakarta sehingga bisa berfungsi menjadi feeder bagi transportasi massal dan menjangkau warga hingga ke pemukiman. Kemudian meningkatkan kapasitas transjakarta, baik dari sisi jumlah armada dan juga pelayanannya, sehingga target 1 juta penumpang perhari bisa tercapai dalam 3 tahun.

Namun begitu, Sandi mengatakan bahwa untuk mengatasi kemacetan tidak cukup hanya dengan mendorong transportasi publik yang terintegrasi saja, karena setiap hari lebih dari 3 juta orang masuk ke Jakarta untuk bekerja. Umumnya mereka pada awalnya adalah warga Jakarta, namun terpaksa ke pinggir dan luar Jakarta karena hunian yang tidak terjangkau di tengah kota.

“Untuk itu, kita berencana membangun pusat-pusat hunian bagi warga pekerja di tengah kota, sehingga mereka bisa tetap bekerja dan tidak perlu melakukan perjalanan terlalu jauh. Hal ini juga berimbas pada pengeluaran untuk biaya transportasi yang bisa dihemat. Apalagi menurut kajian, bahwa koefisien lantai terbangun di Jakarta masih kalah padat dari Singapura. Itu artinya, kita masih kekurangan ruang hunian untuk warga di tengah kota. Kita akan rencanakan dan wujudkan hal itu juga, agar persoalan macet di Jakarta selesai secara komprehensif,” tegas Sandi.

Kabarkan Obrolan IniShare on Facebook29Share on Google+2Tweet about this on Twitter0Share on LinkedIn1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *