Air Tanker, Kebutuhan Yang Terlupakan

Beberapa waktu lalu, dunia alutsista dalam negeri sempat di warnai  “drama” pengadaan pesawat tempur untuk memenuhi kebutuhan pertahanan ruang udara kita. Situasi pengadaan tersebut sempat menjadi berita panas tatkala sejumlah pabrikan pesawat tempur ramai-ramai mengajukan proposal produk unggulannya agar terpilih sebagai pesawat tempur pengganti F-5 Tiger TNI AU yang sudah memasuki masa purnabakti.

Di luar drama dan kegaduhan tersebut, ada satu perhatian yang agak terlupakan dari para analis dan pemerhati dunia kemiliteran Indonesia. Obrolan yang dimaksud adalah pengadaan pesawat air tanker yang bisa melakukan refueling di udara untuk mendukung misi dan operasi militer yang diemban prajurit demi tugas negara. Mengapa tema tersebut sangat penting ? Karena untuk mendukung sebuah operasi militer akan sangat banyak dilakukan pengerahan personil militer maupun mobilisasi peralatan tempur ke wilayah sasaran musuh. Untuk kebutuhan itu dibutuhkan sebanyak mungkin air tanker agar mampu men-support segala jenis pesawat yang akan melakukan infiltrasi secara efektiv dan tepat apalagi meningat wilayah ruang udara yang sangat luas.

Saat ini, TNI Angkatan Udara hanya memililiki dua pesawat air tanker. Pesawat air tanker  dari jenis KC-130 B Hercules buatan Lockheed Martin, Amerika Serikat. Meski TNI Angkatan Udara memiliki lebih dari 10 pesawat Hercules, namun faktanya pesawat Hercules yang diubah menjadi air tanker hanya ada dua, yakni Hercules dengan nomer registrasi A-1309 dan A-1310 yang sudah mengabdi sejak tahun 1961 dan menempati satu skuadron dengan pesawat lainnya di Skuadron Udara 32 (angkut berat).

Sayang beribu sayang, pesawat legendaris yang sudah banyak berjasa untuk ibu pertiwi harus berakhir tragis. Tanggal 30 Juni 2015, salah satu pesawat tersebut jatuh dan terbakar di Jalan Jamin Ginting, Medan, Sumatera Utara. Pesawat dengan nomer registrasi A-1310 tersebut meninggalkan banyak kenangan serta teknologi andalan yang menjadi andalan TNI untuk memobilisasi peralatan tempurnya. Sejatinya, air tanker KC 130 B digunakan untuk melakukan air refueling pada pesawat Hawk 200 yang sering digunakan untuk misi air to ground. Namun dengan ketekunan groundcrew dan prajurit TNI, pesawat tersebut mampu melakukan air refueling pada pesawat tempur tercanggih milik TNI AU yaitu Sukhoi Su-27 dan Su-30 dengan misi air to air.

Sebagai perbandingan, Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM) memiliki setidaknya 4 empat pesawat air tanker yang dibuat dari jenis KC 130 T Hercules. Singapura memiliki 4 air tanker dari KC 130 S Hercules begitupun dengan Australia. Berita terbaru, Singapura dan Australia adalah negara-negara pertama yang bakal memiliki air tanker terbaru besutan Airbus, A330-MRTT. Malaysia ? Sampai saat ini penulis belum mendapatkan berita terakhir, namun Malasysia sudah bersiap menerima pesawat transport Airbus tebaru A 400 M yang berpotensi dapat diubah untuk menjalankan misi air refueling.

Dengan luas lebih kurang 6 juta kilometer persegi meliputi ruang udara di atas daratan dan lautan, atau sama luasnya dengan daratan Amerika Utara minus Alaska, maka dapat dibayangkan betapa luasnya ruang udara yang ada dalam kontrol kita. Saking luasnya, beberapa tahun lalu banyak penerbangan gelap (black flight) yang sanggup menerobos tanpa ijin. Beberapa penerbangan tersebut dapat diintersep dengan armada pesawat tempur yang ada. Di tambah dengan tuntutan masyarakat untuk merebut kembali ruang udara / FIR (Flight Information Region) di wilayah Natuna, Batam, Tanjung Pinang dan Kepulauan Riau dari Singapura maka beban yang akan di tanggung oleh satu buah air tanker yang akan men-support pergerakan pesawat TNI akan maha berat. Apalagi tugas itu semakin sesak jika pesawat tempur terbaru TNI generasi kelima, Sukhoi Su-35 sudah mendarat di bumi pertiwi.

Penulis yakin, para analis militer di lingkungan Kementerian Pertahanan, Kohanudnas dan TNI pasti sudah memikirkan hal ini. Masalahnya saat ini kita berlomba dengan waktu. Adalah sangat tidak bijak jika kita memesan sekian banyak pesawat tempur dan alutsista canggih namun mengabaikan sistem pendukungnya. Bagaimanapun juga pengadaan air tanker sudah tidak lagi menjadi sesuatu yang opsional namun sudah menjadi keharusan. Doktrin militer selalu berpangku pada kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi jika kita terpaksa berkonfrontasi dengan kekuatan militer lain meski kenyataannya saat ini kita berada pada masa damai. Jika masa itu telah datang maka kita tidak akan menjadi kekuatan militer yang plin-plan sebab unsur-unsur strategis militer, seperti sistem pendukung, telah dipersiapkan dengan baik dan matang. Jumlah air tanker perlu di tambah dan dimodernisasi sebagai bagian dari upaya sungguh-sungguh pemerintah yang akan menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

 

 
Ditulis oleh Muhammad Sadan, Marcom Promo Penerbit Loveable dan Fantasious

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

'